Friday, October 4, 2013
Sebuah Pondok dan Kiriman Pahala
Friday, September 27, 2013
Jangan Tinggalkan
Thursday, March 1, 2012
Surat untuk Fred
Saturday, September 10, 2011
Ketika Adam Diterima
Friday, September 9, 2011
Belajar dari Whistleblower
MA Ringankan Hukuman Whistleblower
Penulis : Emir Chairullah
Jumat, 09 September 2011 23:35 WIB
JAKARTA--MICOM: Mahkamah Agung (MA) memutuskan meringankan hukum bagi pelapor tindak pidana (whistleblower) dan saksi pelaku yang bekerja sama (justice collaborators).
Dalam surat edaran Nomor 4/2011, MA meminta hakim memberikan keringanan pidana dan perlindungan bagi keduanya.
LPSK memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap langkah maju MA karena penanganan perlindungan terhadap whistleblower dan justice collaborators.
Utamanya, dalam kasus tindak pidana tertentu yang bersifat serius dan terorganisasi yang membutuhkan penanganan khusus dan juga serius.
Itu diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai dalam rilisnya, Jumat (9/9).
Menurutnya, surat yang dikeluarkan sejak 10 Agustus 2011 tersebut menjadi pertanda langkah maju perkembangan reformasi peradilan pidana di Indonesia. (Che/OL-5)
Whistleblower. Ketika mendengar kata itu, siapa yang kamu ingat? Mungkin jawabannya Udin. Bukan Udin Sedunia, bukan pula Udin sepupuku, atau Udin kakak tingkatku. Adalah Nazarudin, mantan bendahara umum Partai Demokrat yang sekarang sedang merasakan hidup di Rutan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok. Udin (oh aneh, Nazar aja deh, seperti di koran-koran), atau Pak Nazar terpaksa menginap di rutan setelah dijadikan tersangka kasus dugaan korupsi wisma atlet SEA Games 2011. Setelah tertangkap interpol di Kolombia, ia memang jadi sering bernyanyi dan menyeret sejumlah tokoh beken politik seperti tante Angelina Sondakh dan ga ketinggalan Pakdhe Anas Urbaningrum. Mungkin Pak Nazar ini ga terima kalau hanya ia seorang yang dihukum (pikiran polos, maaf). Internal whistleblower seperti ini sepertinya memang banyak terjadi.
Monday, November 8, 2010
Momen
Friday, October 22, 2010
Catatan Malam Pertama
Saturday, November 7, 2009
Puisi Lagi, tapi bukan pesenan Pak Har
Hanyalah dirimu, lelaki
yang menciumiku saat kuhirup wanginya dunia
Membisikkan harapan dan perlindunganmu untukku
Lalu pelukmu menyapa jerit tangisku
Engkaulah, jiwa
Dalam nadiku kau berikan hidupmu
Menunjukkan keindahan duniawi,
kau kenalkan Ilahi penggenggam langit dan bumi
Dan engkau, cinta
Tutur lembutmu nyanyian surgawi
Aromamu sirat kesediaan atas pengorbanan
Kesetiaan tanpa berkeluh kesah
Engkau ciptakan pribadi unggul diriku
Wahai engkau, sayang
Tentang berlian yang indah, tak perlu kau hiraukan
Tak kuharap intan permata darimu
Sebab aku adalah gadismu
Kau adalah milikku
Karena engkau, Bapak
Dalam harimu yang semakin senja
Bukan air mata yang akan kuciptakan
Melainkan segar nafasmu yang berujar,
“Engkau putriku!”
Kalijaga, 22 September 2009
dalam detik bertambahnya usiamu
komentar penulis: nambah lagi..
Puisi Pesenan pak Har
Di tempat yang tinggi
dari apartemen itu
Ia menelepon
Lalu didengarkannya suara merdu dari jauh sana
Suara lelaki yang ia amat kasihi
Getar itu cinta yang terpendam
Berbicara kepadanya setengah berbisik
Katakan kapan kau akan pulang
Tetapi saat ia mendengar
Sebuah tangis rindu yang tak terbalas di ujung sana
Ia harus menghapus air mata di pipinya
Dan berkata aku mencintaimu ibu
Akulah permata yang kaubanggakan
Putrimu pilar bangsa
Tanpaku, presiden tak dapat mengais rupiah
Sang ibu masih menyimpan air mata di hari senjanya
Aku tak butuh ringgitmu, sayang
Hanya engkau yang kuharapkan di sampingku
Akan kusisir lagi rambutmu
Dan kuberi pita merah
Seperti dulu
Lagi, sang kekasih membisikinya
Kembalilah, aku merindukanmu
Takkan kubiarkan kau pergi lagi sayang
Akan kukecup keningmu dalam keheningan malam
Dan kuberikan hanya padamu
Aku akan pulang
Aku pasti akan pulang, ucapnya getir
Tak perlu kau menantiku
Hanya sebut namaku dalam doamu
Lalu kau sambut kepulanganku dengan sejuta rasa
Cukup itu yang kumau
Takkan lagi aku meminta
Hatinya menjadi lega
Lalu terbang
Melayang mencari kedamaian yang dinantinya
28 Oktober 2009
di kegelapan yang awal
komentar pribadi:
terlalu polos, kaga ada majas2nya
sangat amat tidak bombastis
tapi lumayan, daripada berhenti nulis
Thursday, October 8, 2009
Sukron untuk Surga Dunia
-Kasihmu Surga Dunia-
Segalanya indah dan gemerlap
Segalanya pantas untuk kudapat
Ku tahu betapa beruntung aku
Mereka mencintai dan menginginkanku
Tapi yang kumau hanya satu
Tidak lebih, apalagi kurang
Kubertanya pada nasib
Pertanda mana yang Dia tunjukkan
Kemudian tatapanmu menghujam sanubariku
Saat itulah ku tahu pada akhirnya
Kaulah yang kudamba
Mendengarmu tak ingin kuberpaling
Menatapmu merangkai surga dunia
Merengkuhmu kasih berbalas yang ku pinta
Akulah detak di jantungmu
Tak seorang yang menggantikan sentuhanku
Lagi-lagi tetapi
Jarak terbentang memisahkan kita
Terlalu jauh aku darimu
Berbeda kiblat aku denganmu
Andai bisa kau mendekapku
Takkan kuulangi kecerobohan ini
Berharap aku akan kasihmu
menyertai Kasih Ilahi untuk kita
berdua selamanya
Sunan Kalijaga dalam tasbih malam,
1 Oktober 2009
Pendapatnya yang pertama terucap saat memegang lembar tugasku itu, "Waah, fotonya berhasil ini.. hehe. Fotogenik..."
duuh, seneng bangeet.. Pak har muji fotoku. Setelah itu Pak har membaca satu bait awal, dan komentarnya lagi, "ya.. luar biasa. Dalam sekali maknanya, mengandung filosofi.."
Woop.. filosofi paan, batinku. itu puisi aku buat sesuai keadaan hatiku saja. tapi baguslah, ternyata kata-kata yang aku taruh di puisi itu ga bombastis, haha.
kesimpulannya, menulis puisi ga sesulit yang kita bayangkan lho!
Kasihmu Surga Dunia
Segalanya indah dan gemerlap
Segalanya pantas untuk kudapat
Ku tahu betapa beruntung aku
Mereka mencintai dan menginginkanku
Tapi yang kumau hanya satu
Tidak lebih, apalagi kurang
Kubertanya pada nasib
Pertanda mana yang Dia tunjukkan
Kemudian tatapanmu menghujam sanubariku
Saat itulah ku tahu pada akhirnya
Kaulah yang kudamba
Mendengarmu tak ingin kuberpaling
Menatapmu merangkai surga dunia
Merengkuhmu kasih berbalas yang ku pinta
Akulah detak di jantungmu
Tak seorang yang menggantikan sentuhanku
Lagi-lagi tetapi
Jarak terbentang memisahkan kita
Terlalu jauh aku darimu
Berbeda kiblat aku denganmu
Andai bisa kau mendekapku
Takkan kuulangi kecerobohan ini
Berharap aku akan kasihmu
menyertai Kasih Ilahi untuk kita
berdua selamanya
Sunan Kalijaga dalam tasbih malam,
1 Oktober 2009
Pendapatnya yang pertama terucap saat memegang lembar tugasku itu, "Waah, fotonya berhasil ini.. hehe. Fotogenik..."
duuh, seneng bangeet.. Pak har muji fotoku. Setelah itu Pak har membaca satu bait awal, dan komentarnya lagi, "ya.. luar biasa. Dalam sekali maknanya, mengandung filosofi.."
Woop.. filosofi paan, batinku. itu puisi aku buat sesuai keadaan hatiku saja. tapi baguslah, ternyata kata-kata yang aku taruh di puisi itu ga bombastis, haha.
kesimpulannya, menulis puisi ga sesulit yang kita bayangkan lho!
