Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Friday, October 4, 2013

Sebuah Pondok dan Kiriman Pahala

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 04, 2013 0 Comments
Kak, aku punya kabar gembira buatmu. Kau pasti senang mendengarnya. Kau tahu, Kak, masjid kita sekarang sudah berbeda dibandingkan ketika kau tinggalkan dulu. Kini masjid kita sudah ramai. Benar-benar ramai, Kak.

Friday, September 27, 2013

Jangan Tinggalkan

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, September 27, 2013 0 Comments
Key, dari mana aku harus mengatakan ini, ya? Sepertinya aku bikin kesalahan lagi. Tapi ini nggak seperti biasanya. Nggak seperti kecerobohanku ketika mematahkan keran air, lalu kamu segera membetulkannya dan membuatku nggak lagi panik.

Thursday, March 1, 2012

Surat untuk Fred

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, March 01, 2012 0 Comments


Dear Fred,
Hari ini aku baru saja membuka kotak suratku, membersihkannya dari surat-surat yang tidak perlu kusimpan lagi, membuang sampah-sampah yang mungkin terselip di sana. Lalu aku menemukan surat-suratmu. Surat penuh kenangan, penuh cerita. Surat yang kamu kirimkan kepadaku ketika SMA.

Saturday, September 10, 2011

Ketika Adam Diterima

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, September 10, 2011 3 Comments
Koran Wawasan hari ini, 9 September 2011 tertulis di halaman pertama “Pernikahan Warga Samin akan Dilegalkan: Agama Adam Tertulis di Buku Nikah”. Wah, judulnya menarik, kataku dalam hati. Akhirnya, pernikahan Sedulur Sikep atau yang biasa disebut Samin akan dicatatkan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Sebelumnya, pernikahan keturunan Samin Surosentiko itu tidak pernah dicatat oleh negara dan para pengantin tidak pernah mendapat buku nikah karena agama Adam yang mereka anut tidak dapat dicatatkan ke dalam dokumen negara. Sejauh ini pernikahan yang dilakukan hanya sebatas pengesahandari komunitas Sikep sendiri.

Friday, September 9, 2011

Belajar dari Whistleblower

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, September 09, 2011 1 Comments
MA Ringankan Hukuman Whistleblower
Penulis : Emir Chairullah
Jumat, 09 September 2011 23:35 WIB

JAKARTA--MICOM: Mahkamah Agung (MA) memutuskan meringankan hukum bagi pelapor tindak pidana (whistleblower) dan saksi pelaku yang bekerja sama (justice collaborators).

Dalam surat edaran Nomor 4/2011, MA meminta hakim memberikan keringanan pidana dan perlindungan bagi keduanya.

LPSK memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap langkah maju MA karena penanganan perlindungan terhadap whistleblower dan justice collaborators.

Utamanya, dalam kasus tindak pidana tertentu yang bersifat serius dan terorganisasi yang membutuhkan penanganan khusus dan juga serius.

Itu diungkapkan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai dalam rilisnya, Jumat (9/9).

Menurutnya, surat yang dikeluarkan sejak 10 Agustus 2011 tersebut menjadi pertanda langkah maju perkembangan reformasi peradilan pidana di Indonesia. (Che/OL-5)

Whistleblower. Ketika mendengar kata itu, siapa yang kamu ingat? Mungkin jawabannya Udin. Bukan Udin Sedunia, bukan pula Udin sepupuku, atau Udin kakak tingkatku. Adalah Nazarudin, mantan bendahara umum Partai Demokrat yang sekarang sedang merasakan hidup di Rutan Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok. Udin (oh aneh, Nazar aja deh, seperti di koran-koran), atau Pak Nazar terpaksa menginap di rutan setelah dijadikan tersangka kasus dugaan korupsi wisma atlet SEA Games 2011. Setelah tertangkap interpol di Kolombia, ia memang jadi sering bernyanyi dan menyeret sejumlah tokoh beken politik seperti tante Angelina Sondakh dan ga ketinggalan Pakdhe Anas Urbaningrum. Mungkin Pak Nazar ini ga terima kalau hanya ia seorang yang dihukum (pikiran polos, maaf). Internal whistleblower seperti ini sepertinya memang banyak terjadi.

Monday, November 8, 2010

Momen

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, November 08, 2010 0 Comments
Jatuh sakit itu biasa, maksudku sakit bisa menimpa siapapun, kapanpun, di manapun, dalam keadaan bagaimanapun. Kali ini aku yang jahat dan psikopat pun bisa jatuh sakit. Tanpa kasih ampun, si sakit bahkan berkunjung di saat yang sangat amat tepat: ACTION—hajatnya anak akun STAN tingkat 1.

Friday, October 22, 2010

Catatan Malam Pertama

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 22, 2010 4 Comments
Ha, malam pertama. Betul, hari ini 19 September 2010 adalah malam pertamaku keluar dari rumah. Dan di malam pertamaku ini, aku diqodar sendirian di kamar. Ketika membaca quran terhalang keadaan, hanya notebook pemberian Bapak yang kujadikan teman.

Biasanya kalau merasa sepi atau sendiri, aku merasa jadi orang yang paling malang dan menyedihkan di dunia ini. Apa ini terjadi pada orang lain, entahlah, tapi beginilah aku adanya saat ini. Lihat, bahasa yang kutulis seserius ini, juga terdengar melow (apaan sih melow, kayaknya engga ada di kamus deh). Padahal biasanya tulisanku asal sahut saja.

Diingat-ingat, biasanya jam segini Rafi mencariku, “Mbak, mau bobo...”. Lalu aku mulai cerewet menyuruh Prama dan Rafi untuk pipis sebelum tidur. Sekarang apa kabar, ya, di sana? Siapa yang menemani mereka tidur?

Atau mungkin aku lagi nonton. Atau mungkin kalau engga ada acara menarik di TV, ya internetan. Ah, selamat tinggal era internet gratis sepuasnya dibayarin bapak. Selamat datang era nyari hotspot atau warnet, hiks..hiks.... sudah engga bisa posting, browsing, uploading, downloading.. sesuka hati, nih. Ah, dunia yang indah.

Di rumah pasti akan banyak hal yang kurindukan. Keributan di pagi hari, antri mandi, kaus kaki hilang sebelah, makanan tumpah di seragam.... Atau ketika jam sepuluh ketika aku buru-buru pergi menjemput Prama. Lalu melihat betapa ganteng dan cool-nya adikku dari gerbang sekolah, berjalan dan melambaikan tangannya padaku. Duh, duh, adikku masih kecil tapi cool-nya engga nguatin deh. Hihi, malah ganjen.

Aku juga senang melihat Ifa, Afi, Ofi yang misuh-misuh engga jelas gara-gara aku kerjain atau kucerewetin. Haha, barangkali ngedumelnya, “Heran, punya Mbak kok ajaib gini. Cerewet stadium akhir,”
Juga ketika aku menggoda ibu, manggil-manggil engga jelas, “Hey, Mommy!”
“What?”
“Engga..”

Atau ketika aku menertawakan ibu yang digoda bapak. Ah, bapak selalu saja punya bahan godaan buat ibu.
Kalau kuingat terus yang ada di rumah, ya memang engga akan ada habisnya. Rumahku adalah sumber kebahagiaan, sumber kenangan, sumber inspirasi. Dan kalau kuingat ternyata aku sudah tak lagi menjadi bagian dari kisah-kisah di rumah, ah, membangkitkan kesedihanku deh.

Yah, barangkali dari sinilah aku diuji. Apakah aku mampu melangkah seorang diri. Apakah mampu aku menyesuaikan diri. Akan terasa sulit, sepertinya (sok tau) tapi aku harus bersikap realistis. Aku punya rumah baru, keluarga baru dan peraturan baru. Dan aku harus cocok dengan semua yang baru itu. 

Kubaca lagi tulisanku, kedengarannya lebay, ya? Apalagi kalau yang baca kakak-kakak tingkat yang sudah banyak pengalaman. Barangkali komentar mereka, “Ah, nanti juga biasa!”. Ya memang betul sih, nanti juga biasa. Aku tau. Tapi menurutku engga salah kan kalau aku menciptakan momen penting dari momen yang engga penting ini?

Triplek Atas, 19 September 2010
Antara sepi dan penyesalan...

Saturday, November 7, 2009

Puisi Lagi, tapi bukan pesenan Pak Har

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 07, 2009 0 Comments
Hanya Dirimu

Hanyalah dirimu, lelaki
yang menciumiku saat kuhirup wanginya dunia
Membisikkan harapan dan perlindunganmu untukku
Lalu pelukmu menyapa jerit tangisku


Engkaulah, jiwa
Dalam nadiku kau berikan hidupmu
Menunjukkan keindahan duniawi,
kau kenalkan Ilahi penggenggam langit dan bumi

Dan engkau, cinta
Tutur lembutmu nyanyian surgawi
Aromamu sirat kesediaan atas pengorbanan
Kesetiaan tanpa berkeluh kesah
Engkau ciptakan pribadi unggul diriku

Wahai engkau, sayang
Tentang berlian yang indah, tak perlu kau hiraukan
Tak kuharap intan permata darimu
Sebab aku adalah gadismu
Kau adalah milikku

Karena engkau, Bapak
Dalam harimu yang semakin senja
Bukan air mata yang akan kuciptakan
Melainkan segar nafasmu yang berujar,
“Engkau putriku!”

Kalijaga, 22 September 2009
dalam detik bertambahnya usiamu

komentar penulis: nambah lagi..

Puisi Pesenan pak Har

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 07, 2009 0 Comments
Ingin Kau Pulang

Di tempat yang tinggi
dari apartemen itu
Ia menelepon
Lalu didengarkannya suara merdu dari jauh sana
Suara lelaki yang ia amat kasihi



Getar itu cinta yang terpendam
Berbicara kepadanya setengah berbisik
Katakan kapan kau akan pulang

Tetapi saat ia mendengar
Sebuah tangis rindu yang tak terbalas di ujung sana
Ia harus menghapus air mata di pipinya
Dan berkata aku mencintaimu ibu
Akulah permata yang kaubanggakan
Putrimu pilar bangsa
Tanpaku, presiden tak dapat mengais rupiah

Sang ibu masih menyimpan air mata di hari senjanya
Aku tak butuh ringgitmu, sayang
Hanya engkau yang kuharapkan di sampingku
Akan kusisir lagi rambutmu
Dan kuberi pita merah
Seperti dulu

Lagi, sang kekasih membisikinya
Kembalilah, aku merindukanmu
Takkan kubiarkan kau pergi lagi sayang
Akan kukecup keningmu dalam keheningan malam
Dan kuberikan hanya padamu

Aku akan pulang
Aku pasti akan pulang, ucapnya getir
Tak perlu kau menantiku
Hanya sebut namaku dalam doamu
Lalu kau sambut kepulanganku dengan sejuta rasa
Cukup itu yang kumau
Takkan lagi aku meminta

Hatinya menjadi lega
Lalu terbang
Melayang mencari kedamaian yang dinantinya

28 Oktober 2009
di kegelapan yang awal

komentar pribadi:
terlalu polos, kaga ada majas2nya
sangat amat tidak bombastis
tapi lumayan, daripada berhenti nulis

Thursday, October 8, 2009

Sukron untuk Surga Dunia

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, October 08, 2009 5 Comments
Saat pelajaran bahasa Indonesia pak har, beberapa tugas puisi yang dibuat murid kelas 12 ipa 1 di-review, termasuk punyaku.


-Kasihmu Surga Dunia-


Segalanya indah dan gemerlap
Segalanya pantas untuk kudapat

Ku tahu betapa beruntung aku
Mereka mencintai dan menginginkanku
Tapi yang kumau hanya satu
Tidak lebih, apalagi kurang


Kubertanya pada nasib
Pertanda mana yang Dia tunjukkan
Kemudian tatapanmu menghujam sanubariku
Saat itulah ku tahu pada akhirnya

Kaulah yang kudamba
Mendengarmu tak ingin kuberpaling
Menatapmu merangkai surga dunia
Merengkuhmu kasih berbalas yang ku pinta

Akulah detak di jantungmu
Tak seorang yang menggantikan sentuhanku

Lagi-lagi tetapi
Jarak terbentang memisahkan kita
Terlalu jauh aku darimu
Berbeda kiblat aku denganmu

Andai bisa kau mendekapku
Takkan kuulangi kecerobohan ini
Berharap aku akan kasihmu
menyertai Kasih Ilahi untuk kita
berdua selamanya


Sunan Kalijaga dalam tasbih malam,
1 Oktober 2009


Pendapatnya yang pertama terucap saat memegang lembar tugasku itu, "Waah, fotonya berhasil ini.. hehe. Fotogenik..."
duuh, seneng bangeet.. Pak har muji fotoku. Setelah itu Pak har membaca satu bait awal, dan komentarnya lagi, "ya.. luar biasa. Dalam sekali maknanya, mengandung filosofi.."

Woop.. filosofi paan, batinku. itu puisi aku buat sesuai keadaan hatiku saja. tapi baguslah, ternyata kata-kata yang aku taruh di puisi itu ga bombastis, haha.

kesimpulannya, menulis puisi ga sesulit yang kita bayangkan lho!
Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, October 08, 2009 0 Comments
Saat pelajaran bahasa Indonesia pak har, beberapa tugas puisi yang dibuat murid kelas 12 ipa 1 di-review, termasuk punyaku.



Kasihmu Surga Dunia

Segalanya indah dan gemerlap

Segalanya pantas untuk kudapat

Ku tahu betapa beruntung aku

Mereka mencintai dan menginginkanku

Tapi yang kumau hanya satu

Tidak lebih, apalagi kurang


Kubertanya pada nasib

Pertanda mana yang Dia tunjukkan

Kemudian tatapanmu menghujam sanubariku

Saat itulah ku tahu pada akhirnya


Kaulah yang kudamba

Mendengarmu tak ingin kuberpaling

Menatapmu merangkai surga dunia

Merengkuhmu kasih berbalas yang ku pinta


Akulah detak di jantungmu

Tak seorang yang menggantikan sentuhanku


Lagi-lagi tetapi

Jarak terbentang memisahkan kita

Terlalu jauh aku darimu

Berbeda kiblat aku denganmu


Andai bisa kau mendekapku

Takkan kuulangi kecerobohan ini

Berharap aku akan kasihmu

menyertai Kasih Ilahi untuk kita

berdua selamanya


Sunan Kalijaga dalam tasbih malam,

1 Oktober 2009



Pendapatnya yang pertama terucap saat memegang lembar tugasku itu, "Waah, fotonya berhasil ini.. hehe. Fotogenik..."
duuh, seneng bangeet.. Pak har muji fotoku. Setelah itu Pak har membaca satu bait awal, dan komentarnya lagi, "ya.. luar biasa. Dalam sekali maknanya, mengandung filosofi.."

Woop.. filosofi paan, batinku. itu puisi aku buat sesuai keadaan hatiku saja. tapi baguslah, ternyata kata-kata yang aku taruh di puisi itu ga bombastis, haha.

kesimpulannya, menulis puisi ga sesulit yang kita bayangkan lho!
 

IncrediBila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review