Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Friday, October 4, 2013

Sebuah Pondok dan Kiriman Pahala

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 04, 2013 0 Comments
Kak, aku punya kabar gembira buatmu. Kau pasti senang mendengarnya. Kau tahu, Kak, masjid kita sekarang sudah berbeda dibandingkan ketika kau tinggalkan dulu. Kini masjid kita sudah ramai. Benar-benar ramai, Kak.

Monday, April 2, 2012

Neuro-Linguistic Programming: Sebuah Perkenalan

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, April 02, 2012 0 Comments

Neuro-Linguistic Programming? Apa itu? Sebuah metode untuk cari kenalan baru? Tidak juga. Tapi, well, you should try this NLP somewhere ketika berkenalan dengan seseorang.

Kalau kamu bertanya padaku, apa itu NLP, aku tak terlalu yakin bisa menjawab. Tapi barangkali aku bisa memberitahumu sedikit ilmu yang kudapat dari Kelas NLP SekolahStrategi Indonesia Jilid II Sabtu lalu yang dibawakan oleh Pak Darmawan Aji, founder NLP for Everyone.

Saturday, January 14, 2012

Membangun kemampuan untuk MELIHAT MASA DEPAN

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, January 14, 2012 5 Comments
Engkau yang muda dan gelisah karena terbatasnya pandanganmu mengenai masa depan, dengarlah ini …

Orang yang tidak meninggikan kedudukan matanya, harus belajar puas dengan pemandangan yang itu-itu saja di bawah sana.

Dan mata yang kau gunakan untuk melihat masa depan - masa yang tidak terlihat oleh mata ragamu itu, adalah mata mental-mu.

 Mata mentalmu akan menyempit, merabun, dan bahkan membuta, jika engkau tidak mengisi pikiranmu dengan pengetahuan dan ilmu.

Monday, December 26, 2011

[HotTips+] 8 Kebiasaan Baik Yang Ternyata Buruk Vs Kebiasaan Buruk Yang Ternyata Baik

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, December 26, 2011 0 Comments
That habit of quibbling over everything, can’t you fix it?

Masih ingat dengan kutipan yang satu ini? Moon Jae Shin di Sungkyunkwan Scandal sering banget mengucapkan kata-kata yang berbau habit begini.
 
My older brother. I used to have one too. A very fiery tempered older brother. His words were right. I kept repeating his words, and one day it became my habit.

Kyaa.. ganteng banget sih! >.<
Habits atau kebiasaan yang sering diucapkan Moon Jae Shin, sering ia anggap sesuatu yang buruk. Padahal ada juga kebiasaan-kebiasaan baik, iya kan. Tapi do you think "right is always right and wrong is always wrong" is always right? (Haha, apa tuh.) Nah, beberapa di antaranya adalah beberapa kebiasaan di bawah ini. Repost dari Kaskus. Nggak papa ya? Yaudah, cekidot aja!

Saturday, November 26, 2011

Catatan Sakit Mata: Ada yang Terlupa

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 26, 2011 0 Comments
Kemarin malam ada pengajian yang harus kudatangi. Mau ngga mau, aku harus datang walau dengan mata diperban. Sebenernya aku mau kok datang ke pengajian. Yang ngga mau, orang-orang jadi pada tau kalau aku sakit.

Betul kan, ibu-ibu di pengajian banyak yang menanyakan mengapa aku bisa seperti ini. Ya kalau ditanya mengapa, aku ngga bisa jawab. Dokter mungkin lebih tau, dan tentunya Alloh yang paling tau ya, hehe. Sebenarnya aku benci kalau banyak yang tau bahwa aku sedang sakit. Tapi, menurutku perlu juga sih memberi tahu orang lain kalau kita sedang sakit, maksudnya makin banyak yang tau, makin banyak yang mendoakan kita supaya cepat sembuh. Ya, ambil positive things aja lah.

Esok paginya aku terbangun dengan kaget. Innalillahi, aku ga bangun malam. Kebiasaan kalau lagi ngga solat, bangun malam pun ketinggalan.

Catatan Sakit Mata: Jangan Sedih, Kesabaranmu Tengah Diuji

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 26, 2011 0 Comments
Episode sebelumnya: Aku akhirnya menumpahkan semua bebanku dalam sms pada ibu dan bapak.


Begitu pesan itu kukirimkan, tiba-tiba aku menyesal. Kenapa aku malah mengeluh, bisa-bisa ibu dan bapak semakin mengkhawatirkanku.
Ibu membalas smsku dan berkata, ibu selalu mendoakanku. Aku berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Ketika hendak berangkat ujian, bapak meneleponku. Ya, beliau membesarkan hatiku.



Bapak: "Ini lagi di mana?"
Aku: "Masi di rumah, pak. Ini mau berangkat sekarang"
Bapak: "Jangan terlalu dipikirkan ujiannya, mbak. Nggak apa-apa ujiannya semampunya saja. Banyak doa, mbak harus yakin sama pertolongan Alloh. Sing sabar mbak."
Mendengar suara bapak yang dalam dan menenangkan, hatiku semakin terenyuh. Akhirnya pecah tangisku. Rasa syukur, haru, kangen, dan gelisah yang berubah jadi ketenangan bercampur jadi satu.
Aku menjawab "iya" sambil terisak. Mataku terasa semakin pedih karena terkena air mata.
"Sudah, sudah, mbak. Banyak doa, banyak doa ya."
Alhamdulillah, Alloh memberiku kemampuan dalam menjawab soal-soal intermediate accounting itu.


Sorenya, bapak kembali menelepon. Menanyakan keadaanku dan ujianku paginya.
Tak lama ibu pun menelepon, sama, menanyakan bagaimana keadaanku.
Ibu: "Tadi Ufa nangis ya? Kata bapak tadi ufa nangis waktu ditelepon."
Aku: "Iya bu. Hee. Sebenernya ufa tadi ga kepengen nangis. Tapi karena ufa denger suara bapak, malah jadi kepengen nangis." (aku bingung menjelaskannya pada ibu)
Ibu: "Yauda, ufa harus sabar ya."
Aku: "Sebenernya ufa ga mau cerita, bu. Ufa ngga mau bikin ibu sama bapak kepikiran. Tapi tadi pagi tuh selain kesakitan, ufa juga khawatir dengan ujian ufa. Kemarin kan ufa ga bisa belajar sama sekali bu. Ufa bingung mau cerita sama siapa, temen-temen ufa kan lagi mikir ujian mereka masing-masing juga."
Ibu: "Eeh, ngga boleh gitu. Ufa tetep harus cerita kalau ada apa-apa.
Walaupun kita terpisah jauh, ibu kan harus tau keadaanmu gimana."



Aku speechless, ngga nyangka ibu bisa bicara seperti itu.

Ibu: “Halo? Ufa?”

Aku: “Ya bu. Kalo ufa cerita, ufa takut ibu nanti khawatir.”

Ibu: ”Ya kalo ufa tegar, ufa sabar, ibu di sini juga bisa tegar kok. Tapi dari kamunya yang harus bisa nguat-nguatin diri. Dengan gitu, ibu ngga akan terlalu khawatir. Ya namanya ibu masa ngga khawatir sama anaknya, apalagi ngga di rumah.”

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Jarang sekali Ibu berkata seperti itu. Tapi perkataan ibu benar. Aku harus lebih banyak bersabar.

Aku ngga boleh mengeluh!

Ibu kemudian bertanya kapan aku pulang. Beliau bilang adik-adik sudah menungguku karena kami akan touring ke Jogja dan sekitarnya begitu aku pulang.

Aku: "Oh, jadi nungguin ufa pulang karena ngarep jalan-jalannya nih?"

Ibu hanya tertawa.

Ibu: “Eh, bapak uda pulang tuh. Udah dulu, fa. Ya pokoknya ufa banyak doa, yang sabar aja fa. Ya?’

Aku: “Iya bu. Insya Alloh. Alhamdulillah jazakillahu khoiro, ya, bu”


Telepon kututup, dan aku masih berpikir. Tentang sakit ini, benar ini adalah cobaan. Yang namanya cobaan, tentu Alloh punya maksud mengapa aku dicoba seperti ini. Bisa jadi aku punya suatu kesalahan atau dosa, lalu Alloh memperingatkanku lewat cara aku disakitkan. Barangkali pula, ini adalah salah satu ujian kesabaran. Sejauh mana aku bisa sabar. Andaikata ini memang ujian kesabaran, aku ingin lulus dengan nilai yang baik. Maksudku, walau kulewati dengan susah payah, aku mau kesabaranku nanti bisa berbuah menjadi hal-hal lain yang baik.

Thursday, November 3, 2011

Belajar Akuntansi

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, November 03, 2011 2 Comments
Oleh Daljono

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam melakukan kegiatan belajar. Ada orang yang cukup dengan memperhatikan secara saksama ketika dijelaskan, mereka sudah langsung menguasai materi yang disajikan tanpa harus belajar lagi. Ada pula mahasiswa yang belajar dengan cara membaca buku berkali-kali, namun tidak menguasai materi. Ada juga yang dalam membaca buku harus mencoret dengan starbilo warna. Sampai - sampai buku yang semula putih bersih menjadi full color. Ada juga yang menggaris bawahi setiap kata penting yang ia temukan di textbook. Seolah-olah ia tidak percaya kalau seluruh baris tulisan kalimat di buku itu sudah lurus. Karena semua kalimat dalam buku yang dibaca adalah penting, maka dari awal sampai akhir buku menjadi bergaris. Yang lebih heboh lagi, adalah..... jurus baca mantra. Dengan jurus baca mantra ini mereka membaca catatan kecil secara berkali-kali. Definisi – definisi, rumus –rumus, dsb akan dibaca (diucapkan) berkali –kali dimanapun, kapanpun, .... nah, persis orang baca mantra kan!

What You Think is What You are

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, November 03, 2011 2 Comments
11.0X. Saatnya menghadiri kelas Perpajakan 1. Karena sejak sehari sebelumnya Galih Ketua Kelas kami sudah mengirimi jarkom kalau hari ini bakal full kuliah dari pukul delapan sampai setengah lima, kupikir hari ini akan sangat melelahkan dan membosankan.
google
Ya, di pertengahan hari itu aku menyangka aku nggak bakal bisa mengikuti perkuliahan dengan baik. Tapi siapa sangka, begitu selesai mengabsen mahasiswanya satu persatu, Pak Jimmi dosen kami tiba-tiba bertanya, “Siapa yang hari ini sedang bahagia?”
Satu pun dari kami nggak ada yang menjawab. Aku dan teman sebangku-ku Agustin hanya saling pandang.
“Siapa yang hari ini nggak bahagia?” karena nggak ada yang jawab, Pak Jimmi mengubah pertanyannya.
Still, no answer. Tapi beberapa teman mulai nggremeng. Ada yang bilang bahagia, ada yang bilang nggak. Aku sih, bahagia nggak bahagia. Err.. gimana yah

Tuesday, October 11, 2011

Seberapa Pantas

Posted by » Nabila Sumargono at Tuesday, October 11, 2011 2 Comments
Cekidot!

Pada kuliah Akuntansi Pemerintahan pagi ini dosen kami, Pak Sutama Karta Suwita (ini nama asli beliau, katanya) alias Pak Amatus Ngotot (kata bapaknya gitu) alias Pak Totong Sutama (ini nama di jadwal yang dikasih sekre) punya cerita. Pada intinya sih ia mau bilang kalau di kampus kami, dosen itu segalanya. Artinya layak atau tidaknya kami meneruskan kuliah di sini tergantung dosen yang menilai.
Tapi jangan khawatir! Pak Totong*, begitulah beliau ingin dipanggil, ngasih tau kok bagaimana tolok ukur kelayakan kami. Menurut beliau, kelayakan seseorang dalam menjalani profesinya, bisa dilihat dari niatnya.
“Kalo kamu mau dibilang layak, minimal kamu harus punya niat,” kata Pak Totong sambil nulis kata N I A T di papan tulis. Uda gitu beliau gambar anak panah di sebelahnya.
“Niat itu berarti kamu ada komitmen di dalam hati, komitmen pada diri sendiri kalau kamu bisa dan layak. Nah, kalo kamu masih pengen kuliah disini, minimal kamu harus punya komitmen dong untuk bisa bertahan di sini,” kata beliau sambil nulis kata K O M I T M E N di sebelah anak panah.
Semua diem. Entah ngedengerin, entah pada ngantuk. Yah pokoknya diem semua. Si Wiwit di sebelahku uda tiga watt, kriyep-kriyep, siap padam.
Pak dosen ngelanjutin lagi, “Teruuus, yang kedua kamu itu harus punya kemampuan. Bla bla bla bla…”
Aku miss di sini, ga terlalu fokus dengan ceramah bapaknya. Akhirnya aku hanya merekam tulisan yang ada di papan tulis.
LAYAK
1. Niat  --> KOMITMEN
2. Kemampuan --> KOMPETENSI
Trus poinnya apa?
Aku rasa yang ditulis bapak tadi uda cukup jelas. Kalo merasa pantas dalam suatu hal, kamu harus punya komitmen untuk sungguh-sungguh tenggelam dalam hal itu. Setelah itu kamu pun harus punya kompetensi dalam melakukannya. Tau kan, berarti kamu harus berkemampuan, harus punya skill. Gampangnya, kalo kamu ingin jadi akuntan, satu: kamu harus niat jadi akuntan, punya visi dan misi untuk apa jadi akuntan. Dan yang penting, kamu punya kemampuan untuk jadi akuntan. Kuliah jurusan akuntansi, belajar sampe kamu bisa.
Atau kalau kamu pengen jadi insinyur (sekarang yang ada sarjana teknik), perkayalah pengetahuan dan keterampilan kamu supaya kamu pantas jadi insinyur.


Dipikir-pikir, menerapkan konsep ini dalam hal percintaan bisa juga loh.. #eeaa
Buat sendiri analoginya ya, hehe
Sekian :)

10 Oktober 2011
13:03

*kalo ada yang tau artinya (terutama orang Medan), jangan ketawa yah XD

Saturday, September 10, 2011

Ketika Adam Diterima

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, September 10, 2011 3 Comments
Koran Wawasan hari ini, 9 September 2011 tertulis di halaman pertama “Pernikahan Warga Samin akan Dilegalkan: Agama Adam Tertulis di Buku Nikah”. Wah, judulnya menarik, kataku dalam hati. Akhirnya, pernikahan Sedulur Sikep atau yang biasa disebut Samin akan dicatatkan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Sebelumnya, pernikahan keturunan Samin Surosentiko itu tidak pernah dicatat oleh negara dan para pengantin tidak pernah mendapat buku nikah karena agama Adam yang mereka anut tidak dapat dicatatkan ke dalam dokumen negara. Sejauh ini pernikahan yang dilakukan hanya sebatas pengesahandari komunitas Sikep sendiri.

Friday, September 9, 2011

Bad Mood? Engga Mauuuu..

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, September 09, 2011 0 Comments
Hati memang engga pernah bohong. Walau kita ingin selalu keliatan cheer up, bahagia, semangat, dan selalu ingin menyebar energi positif buat orang-orang di sekitar, kadangkala kita engga bisa mengelak dari yang namanya bad mood.

 

IncrediBila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review