Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

Friday, October 4, 2013

Sebuah Pondok dan Kiriman Pahala

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 04, 2013 0 Comments
Kak, aku punya kabar gembira buatmu. Kau pasti senang mendengarnya. Kau tahu, Kak, masjid kita sekarang sudah berbeda dibandingkan ketika kau tinggalkan dulu. Kini masjid kita sudah ramai. Benar-benar ramai, Kak.

Tuesday, November 29, 2011

Catatan Sakit Mata: Everything Can Happen, But I Wish the Best :)

Posted by » Nabila Sumargono at Tuesday, November 29, 2011 2 Comments
Alhamdulillah. UTS semester ini uda selesai. Sekarang aku mau cerita, masih tentang sakit mataku. Mudah-mudahan kamu yang membaca ceritaku bisa mengambil hikmahnya. Apa aja. Kemarin aku kembali mendatangi dokter spesialis mata yang merawatku. Namanya.. ah kalau aku beri tau namanya kamu belum tentu mengenalnya kan. Sudahlah, nggak terlalu penting.

Ketika beliau memeriksa mataku dengan alat.. entahlah, beliau terkejut. “Ini sudah parah sekali, Nabil.” Beliau kemudian membuka kelopak mataku yang bengkak. “Kornea kamu sudah kena,” lanjutnya, “virusnya sudah mengganas ini.”

Saturday, November 26, 2011

Catatan Sakit Mata: Ada yang Terlupa

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 26, 2011 0 Comments
Kemarin malam ada pengajian yang harus kudatangi. Mau ngga mau, aku harus datang walau dengan mata diperban. Sebenernya aku mau kok datang ke pengajian. Yang ngga mau, orang-orang jadi pada tau kalau aku sakit.

Betul kan, ibu-ibu di pengajian banyak yang menanyakan mengapa aku bisa seperti ini. Ya kalau ditanya mengapa, aku ngga bisa jawab. Dokter mungkin lebih tau, dan tentunya Alloh yang paling tau ya, hehe. Sebenarnya aku benci kalau banyak yang tau bahwa aku sedang sakit. Tapi, menurutku perlu juga sih memberi tahu orang lain kalau kita sedang sakit, maksudnya makin banyak yang tau, makin banyak yang mendoakan kita supaya cepat sembuh. Ya, ambil positive things aja lah.

Esok paginya aku terbangun dengan kaget. Innalillahi, aku ga bangun malam. Kebiasaan kalau lagi ngga solat, bangun malam pun ketinggalan.

Catatan Sakit Mata: Jangan Sedih, Kesabaranmu Tengah Diuji

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, November 26, 2011 0 Comments
Episode sebelumnya: Aku akhirnya menumpahkan semua bebanku dalam sms pada ibu dan bapak.


Begitu pesan itu kukirimkan, tiba-tiba aku menyesal. Kenapa aku malah mengeluh, bisa-bisa ibu dan bapak semakin mengkhawatirkanku.
Ibu membalas smsku dan berkata, ibu selalu mendoakanku. Aku berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Ketika hendak berangkat ujian, bapak meneleponku. Ya, beliau membesarkan hatiku.



Bapak: "Ini lagi di mana?"
Aku: "Masi di rumah, pak. Ini mau berangkat sekarang"
Bapak: "Jangan terlalu dipikirkan ujiannya, mbak. Nggak apa-apa ujiannya semampunya saja. Banyak doa, mbak harus yakin sama pertolongan Alloh. Sing sabar mbak."
Mendengar suara bapak yang dalam dan menenangkan, hatiku semakin terenyuh. Akhirnya pecah tangisku. Rasa syukur, haru, kangen, dan gelisah yang berubah jadi ketenangan bercampur jadi satu.
Aku menjawab "iya" sambil terisak. Mataku terasa semakin pedih karena terkena air mata.
"Sudah, sudah, mbak. Banyak doa, banyak doa ya."
Alhamdulillah, Alloh memberiku kemampuan dalam menjawab soal-soal intermediate accounting itu.


Sorenya, bapak kembali menelepon. Menanyakan keadaanku dan ujianku paginya.
Tak lama ibu pun menelepon, sama, menanyakan bagaimana keadaanku.
Ibu: "Tadi Ufa nangis ya? Kata bapak tadi ufa nangis waktu ditelepon."
Aku: "Iya bu. Hee. Sebenernya ufa tadi ga kepengen nangis. Tapi karena ufa denger suara bapak, malah jadi kepengen nangis." (aku bingung menjelaskannya pada ibu)
Ibu: "Yauda, ufa harus sabar ya."
Aku: "Sebenernya ufa ga mau cerita, bu. Ufa ngga mau bikin ibu sama bapak kepikiran. Tapi tadi pagi tuh selain kesakitan, ufa juga khawatir dengan ujian ufa. Kemarin kan ufa ga bisa belajar sama sekali bu. Ufa bingung mau cerita sama siapa, temen-temen ufa kan lagi mikir ujian mereka masing-masing juga."
Ibu: "Eeh, ngga boleh gitu. Ufa tetep harus cerita kalau ada apa-apa.
Walaupun kita terpisah jauh, ibu kan harus tau keadaanmu gimana."



Aku speechless, ngga nyangka ibu bisa bicara seperti itu.

Ibu: “Halo? Ufa?”

Aku: “Ya bu. Kalo ufa cerita, ufa takut ibu nanti khawatir.”

Ibu: ”Ya kalo ufa tegar, ufa sabar, ibu di sini juga bisa tegar kok. Tapi dari kamunya yang harus bisa nguat-nguatin diri. Dengan gitu, ibu ngga akan terlalu khawatir. Ya namanya ibu masa ngga khawatir sama anaknya, apalagi ngga di rumah.”

Lagi-lagi aku hanya terdiam. Jarang sekali Ibu berkata seperti itu. Tapi perkataan ibu benar. Aku harus lebih banyak bersabar.

Aku ngga boleh mengeluh!

Ibu kemudian bertanya kapan aku pulang. Beliau bilang adik-adik sudah menungguku karena kami akan touring ke Jogja dan sekitarnya begitu aku pulang.

Aku: "Oh, jadi nungguin ufa pulang karena ngarep jalan-jalannya nih?"

Ibu hanya tertawa.

Ibu: “Eh, bapak uda pulang tuh. Udah dulu, fa. Ya pokoknya ufa banyak doa, yang sabar aja fa. Ya?’

Aku: “Iya bu. Insya Alloh. Alhamdulillah jazakillahu khoiro, ya, bu”


Telepon kututup, dan aku masih berpikir. Tentang sakit ini, benar ini adalah cobaan. Yang namanya cobaan, tentu Alloh punya maksud mengapa aku dicoba seperti ini. Bisa jadi aku punya suatu kesalahan atau dosa, lalu Alloh memperingatkanku lewat cara aku disakitkan. Barangkali pula, ini adalah salah satu ujian kesabaran. Sejauh mana aku bisa sabar. Andaikata ini memang ujian kesabaran, aku ingin lulus dengan nilai yang baik. Maksudku, walau kulewati dengan susah payah, aku mau kesabaranku nanti bisa berbuah menjadi hal-hal lain yang baik.

Saturday, October 8, 2011

Kampanye Ala Kadarnya

Posted by » Nabila Sumargono at Saturday, October 08, 2011 0 Comments
Oke, temen-temen, masih dalam suasana malam minggu yang mengharu biru #apadeh. Malam ini aku ganti foto profil loh. Aku ganti dengan gambar segelas air. Jernih banget airnya.
Sedikit cerita, aku suka air. Alasannya mungkin sama dengan semua orang, air itu membantu kita di kehidupan. Buat minum, buat mandi, buat nyuci, deskripsinya kurang lebih sama lah. I love many things about water. Gelembung air, embun, hujan.
Embun, kalau pagi-pagi kamu keluar, kamu pasti, eh insya Alloh, bakal nemuin embun di mana-mana.
Hujan. Pas lagi hujan, enak banget suasananya, momentnya cocok buat istirahat. Ngga enaknya kalo pas lagi di luar, atau pas lagi pengen keluar. Tapi hujan tuh menunjukkan kepasrahan. Maksudnya gini, hujan, walaupun lagi musimnya, kalo ngga ditakdirkan turun, ya ngga bakal turun. Tuh, hujan aja bisa pasrah. Kita juga cuma bisa pasrah nungguin hujan, ngeliatin hujan atau pasrah kehujanan.
Aku seneng banget kalau dengar suara gelembung air yang biasanya muncul pas lagi nuangin air. Klutuk klutuk klutuk.. gitu. Lebih seneng lagi kalau bisa liat gelembungnya. Suara air di keran, sungai, air terjun, wah rasanya nyess, adem di hati. Mungkin itu sedikit banyak disebabkan  kelegaan karena masih bisa punya air bersih. Atau bisa juga karena ya, menganggap air itu kehidupan, lebay, eh tapi bukan sirik.
 
Sebenarnya pemilihan gambar untuk foto profil itu ada misinya juga. Kalian tau kan kalau saat ini kita lagi ngalamin masa-masa yang sedikit sulit. Air bersih mulai kritis keberadaannya. Saat dunia membutuhkan, ia menghilang… (Hayah, hari gini masih ngomongin Avatar). Alhamdulillah di rumah air masih lancar, ngga ada kabar kesulitan air dari kampung halaman. Di kosku air tetap lancar juga, alhamdulillah. Padahal jarak seratus dua ratus meter sudah banyak tetangga yang mulai kesulitan air bersih. 

Bisa ngebayangin ngga sih kalau ngga ada air? Haus karena ngga bisa minum, panas dan gerah karena mandi cuma sehari atau seminggu sekali, kepala gatel karena ngga bisa sampoan,dan nyuci! Parah lagi tanpa air, kayaknya sulit banget menjaga kesucian, betul. Selama ini masalah kesucian kan kita mengandalkan air. Haduuh.. ini disebabkan kemarau yang mampir ngga kira-kira. Hujan ngga dikasih lewat! Padahal aku rindu loh suara hujan dan bau tanah yang abis kena hujan.

Ngomong-ngomong, air sekarang bukan barang bebas kan ya? Sekarang air adalah barang ekonomi. PDAM, pabrik-pabrik air minum dalam kemasan juga rata-rata “mengambil keuntungan” dari alam. Beli a*ua lima ratus perak aja cuma dapet segelas. Padahal kebutuhan air untuk tubuh kita minimal 8 gelas perhari kan. Itu cuma buat minum aja. Belum mandi dan nyuci yang jelas-jelas butuh buanyak air untuk menjaga kebersihan dan kesucian.


Trus kita musti ngapain nih? Hemat air! Kalau kamu punya kebiasaan ninggalin keran air terbuka pas lagi sikat gigi atau cuci muka di wastafel, sebaiknya hilangkan deh kebiasaan itu. Lumayan airnya kalo dikumpulin. Trus, biasakan juga menghabiskan minuman yang ada dalam gelas. Pengalaman nih, dulu suka boros air. Aku ambil air minum yang banyak di gelas, sampai hampir penuh, tapi ngga aku abisin. Eeh, sama ibu dibuang. Kan airnya uda kecampur sama debu , kotor, kata ibu. Sedikit-sedikit sih kayaknya biasa aja, tapi efeknya baru kerasa pas lagi ngga punya air minum, nyesel pernah buang air minum. Aku bisa ngomong seperti itu karena aku juga dulu pernah melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk itu.
Selain itu apa lagi nih yang harus kita lakuin? Kasih saran dong! Pokoknya Selamatkan Air di Indonesia! Di dunia juga deh!

Friday, September 9, 2011

Bad Mood? Engga Mauuuu..

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, September 09, 2011 0 Comments
Hati memang engga pernah bohong. Walau kita ingin selalu keliatan cheer up, bahagia, semangat, dan selalu ingin menyebar energi positif buat orang-orang di sekitar, kadangkala kita engga bisa mengelak dari yang namanya bad mood.

Wednesday, August 17, 2011

Surat untuk Ufa

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, August 17, 2011 0 Comments
Dear Ufa,
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu, apa yang menemuimu, apa yang merintangimu, dan apa pula yang membantumu menjalani hidup yang akan datang. Dua tahun kedepan ini, kau akan menempuh jalan berliku untuk sampai pada Yudisium dan Wisuda. Walau ‘sekadar’ ilmu dunia, tak salah kan aku ingin kau sukses meraihnya agar kelak hidupmu terukir kebahagiaan dan mengukir kebahagiaan untuk orang lain dengan prestasi duniamu. Meski sempat tersandung, aku ingin kau bangkit dan melanjutkan perjalananmu dengan lebih baik lagi.


Ketika kau berbicara, ingatlah masa-masa ujian dimana kau merasa perkataan dan omong kosongmu selama ini tak membantumu dalam ujian.


Ketika kau malas belajar, ingatlah masa-masa ujian dimana kebodohan dan ketidaktahuan begitu terasa mematikan.


Ketika kau merasa bukumu begitu membosankan, ingatlah masa-masa ujian di mana kau menyadari bahwa buku itulah jawaban semua soal, lalu kau menyesal karena tidak kau tekuni dengan serius.


Ketika kau menyia-nyiakan waktu luangmu, ingatlah masa-masa ujian dimana kau tak dapat berbuat lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil yang baik.


Ketika kau merasa Allah tidak adil, ingatlah Allah masih memberimu kesempatan mengikuti ujian di kampus tercintamu untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.


Bersyukurlah. Tidak semua temanmu mendapatkan apa yang kau miliki. Bersyukurlah karena kau bisa berada di tempat di mana kau berada sekarang. Bersyukurlah karena kau bisa menyandang jas almamater kebanggaan. Bersyukurlah karena kau memilki takdir yang baik. Bersyukurlah…


SK, 16-08-11
15.34

Monday, August 15, 2011

Visi Cinta

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, August 15, 2011 2 Comments
Beberapa waktu yang lalu seorang teman pernah bertanya padaku, apakah saat ini aku sedang mencintai seseorang. Jujur aku sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Terlalu frontal, blak-blakan. Apalagi di tengah tekanan menghadapi ujian semester.

Aku terhenyak sesaat. Tak tahu harus berkata apa. Bukan karena aku sedang mencintai seseorang atau tidak, bahkan aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ada seseorang yang kucintai saat ini.


Tentang cinta, pengetahuanku sangatlah sempit. Yang aku tahu, suatu saat ada masanya di mana akan kudapatkan cinta yang halal itu. Entah pada siapa, dari siapa, dan untuk siapa kuberikan cinta itu. Aku tak meminta pangeran setampan Nabi Yusuf yang turun dari seekor kuda putih. Toh, aku ini tak lebih dari sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Kebiasaan Baik? Bisa Kok! #1

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, August 15, 2011 0 Comments
Mengajarkan anak akan kebiasaan –kebiasaan yang baik-baik memang susah-susah gampang. Ada kalanya kita harus pandai-pandai bermulut manis agar mereka tertarik dengan apa yang kita ajarkan. Ada kalanya pula kita harus tegas dan memaksakan kehendak. Nah kali ini aku punya beberapa cerita tentang mengajarkan anak—lebih tepatnya sih adik—untuk melakukan sesuatu yang baik-baik.

Dua hari pulang, aku emperhatikan kalau setiap berbuka puasa, Prama selalu punya banyak makanan. Balam dendam mungkin ya, karena puasa seharian. Aku berkomentar saja, “Jajanmu kok banyak sih, dek, uangnya banyak ya!”

Monday, November 8, 2010

Momen

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, November 08, 2010 0 Comments
Jatuh sakit itu biasa, maksudku sakit bisa menimpa siapapun, kapanpun, di manapun, dalam keadaan bagaimanapun. Kali ini aku yang jahat dan psikopat pun bisa jatuh sakit. Tanpa kasih ampun, si sakit bahkan berkunjung di saat yang sangat amat tepat: ACTION—hajatnya anak akun STAN tingkat 1.

Wednesday, September 23, 2009

Love for Me I

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, September 23, 2009 0 Comments
 “Aku tuh bodoh, kok, BIl. Nggak pantes masuk sekolah sebagus itu,”. Saat aku dan teman-teman membicarakan masa depan kami, terutama akan masuk perguruan tinggi mana nantinya kami, seorang teman berkomentar seperti itu. Komentar yang sarat pesimistisme, unconfidence, dan jahat.

Atau yang satu ini adalah pengalaman pribadi. Belakangan kegiatan belajarku berkurang gara-gara aku merasa minder karena prestasiku nggak secemerlang temanku yang uda nyampe olimpiade nasional. Aku kesulitan mengerjakan soal dan aku sama sekali nggak menyukainya. Dalam hati aku mengeluh kenapa bisa seperti ini sementara teman-teman belajar dengan baik. Menyedihkan, memalukan, dan seram. 

Tapi begitukah seharusnya aku bersikap? Aku kehilangan semangat dan konsentrasi belajar, kemudian merasa bodoh dan jelek, lalu aku menyalahkan keadaanku sendiri. Sementara mungkin orang lain tidak berpendapat demikian. Suka atau tidak suka aku memang telah berbuat begitu pada diriku sendiri. Aku benci aku yang lemot, aku kesal, aku marah. Hingga suatu hari dia, temanku yang pandai itu menginspirasiku dengan istilahnya: love for me. Cinta untukku. Cinta untukku? Cinta buat gue? Haha, ya, batinku. Kenapa aku tidak bisa mencintai diriku yang kurang. Kenapa aku nggak bisa menerima kalau aku memang tidak bisa mengejar kepandaian temanku.

Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu. (Q.S. Muhammad 47 ayat 35)

Betul juga, ya! Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mencintai diri sendiri. Kita harus bisa mencintai diri lengkap dengan kurang dan lebihnya. Aku pikir-pikir ini juga merupakan langkah awal mewujudkan rasa syukur kita pada Allah yang ga boleh berhenti meski—naudzubillahi min dzalik—mendapat sedikit pun cobaan.
Mengeluh memang manusiawi, tapi kalau kita coba untuk menerima dengan lapang dada dan berusaha memperbaiki kekurangan, insya Allah ga akan sia-sia. Allah, kan Maha-Segala-Bisa, iya kaaan…! Cintai diri sendiri, hm…Cinta Allah dan Rasul juga! Cihuuyyy..


Friday, August 21, 2009

Love For Choliq

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, August 21, 2009 3 Comments
Ini hari pertama libur awal Ramadhan. Anak-anak eks kelas X-9 yang sekarang uda mencar di banyak kelas itu punya rencana buat jenguk Choliq, teman kami yang setahun ga masuk karena sakit. Untuk mencapai rumahnya, kami harus pergi ke Kecamatan trangkil yang cukup jauh dari kota. Itu belum termasuk gang-gang yang harus kami lewati.



Sebelum nyampe rumahnya Choliq, kupikir kami akan bertemu Choliq sedang duduk atau nonton. Masya Allah, ternyata Choliq hanya bisa terbaring. Tubuhnya kurus banget, tinggal tulang dibalut kulit, mungkin. kalau dia masi bisa senyum sih Alhamdulillah, tapi begitu kami masuk ke kamar, dia langsung nangis. Tangisannya pasrah banget. Dia malu ketemu dengan temen-temennya dengan kondisi kayak gitu. Nah, siapa yang ga terisak menyaksikan pemandangan tersebut?


Choliq teman kita ini punya masalah di alat pencernaannya. Bahkan di usianya yang masih muda, dia uda punya penyakit diabetes. Apalagi penyakitnya sekarang uda komplikasi, sungguh, penderitaannya berat banget.Tapi yang menderita ga hanya dia seorang. Ya, mereka adalah ibu dan bapaknya Choliq. Saat ibunya menceritakan keadaannya selama beberapa waktu terakhir, beliau cuma bisa membiarkan air matanya turun. ga dilap. Bapaknya juga keliatan tegar banget. Tapi, bisa apa kita sebagai manusia biasa.

Keadaan Choliq seperti itu bukan tanpa usaha untuk menyembuhkannya, lho. Bahkan guru kita dari SMA 1 Pati pun ada yang memberikan bantuan lewat jarak jauh. Tapi memang sudah garis Allah SWT kalau dia akan menghadapi cobaan itu.
Choliq sekarang butuh doa dan support dari kami temen-temennya, meskipun dia malu ketemu kami. Wajar kalau yang dia inginkan adalah kematian, karena menurutku memang ga enak hidup dalam kondisi seperti itu, makan ga bisa, tidur bosen, mau melakukan aktivitas menghisap banyak energinya yang tak seberapa. Bagian yang menurtku ironis adalah ketika dimana ia hidup, bernapas, mendengarkan musik atau menonton TV, tetapi ia berpikir cepat atau lambat kematian akan datang kepadanya.

Meski begitu, kami temen-temennya peduli dan terus berdoa untuk kesembuhan Choliq, berapapun banyaknya dokter yang memvonis dia tidak punya banyak kesempatan.

Teman-teman, mari kita kirimkan doa untuk sahabat kita Windha Choliq. "Ya Allah! Berikanlah ia kesembuhan, umur panjang dan barokah, bisa membahagiakan kedua Orang Tuanya, bisa menghapus air mata Ibundanya, bisa membuat ayahnya membusungkan dada karena bangga terhadapnya, dan bisa berdakwah demi tegaknya Sabilillah." Amiin



 

IncrediBila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review