Friday, October 4, 2013
Sebuah Pondok dan Kiriman Pahala
Tuesday, November 29, 2011
Catatan Sakit Mata: Everything Can Happen, But I Wish the Best :)
Saturday, November 26, 2011
Catatan Sakit Mata: Ada yang Terlupa
Catatan Sakit Mata: Jangan Sedih, Kesabaranmu Tengah Diuji
Begitu pesan itu kukirimkan, tiba-tiba aku menyesal. Kenapa aku malah mengeluh, bisa-bisa ibu dan bapak semakin mengkhawatirkanku.
Ibu membalas smsku dan berkata, ibu selalu mendoakanku. Aku berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Ketika hendak berangkat ujian, bapak meneleponku. Ya, beliau membesarkan hatiku.
Bapak: "Ini lagi di mana?"
Aku: "Masi di rumah, pak. Ini mau berangkat sekarang"
Bapak: "Jangan terlalu dipikirkan ujiannya, mbak. Nggak apa-apa ujiannya semampunya saja. Banyak doa, mbak harus yakin sama pertolongan Alloh. Sing sabar mbak."
Mendengar suara bapak yang dalam dan menenangkan, hatiku semakin terenyuh. Akhirnya pecah tangisku. Rasa syukur, haru, kangen, dan gelisah yang berubah jadi ketenangan bercampur jadi satu.
Aku menjawab "iya" sambil terisak. Mataku terasa semakin pedih karena terkena air mata.
"Sudah, sudah, mbak. Banyak doa, banyak doa ya."
Alhamdulillah, Alloh memberiku kemampuan dalam menjawab soal-soal intermediate accounting itu.
Sorenya, bapak kembali menelepon. Menanyakan keadaanku dan ujianku paginya.
Tak lama ibu pun menelepon, sama, menanyakan bagaimana keadaanku.
Ibu: "Tadi Ufa nangis ya? Kata bapak tadi ufa nangis waktu ditelepon."
Aku: "Iya bu. Hee. Sebenernya ufa tadi ga kepengen nangis. Tapi karena ufa denger suara bapak, malah jadi kepengen nangis." (aku bingung menjelaskannya pada ibu)
Ibu: "Yauda, ufa harus sabar ya."
Aku: "Sebenernya ufa ga mau cerita, bu. Ufa ngga mau bikin ibu sama bapak kepikiran. Tapi tadi pagi tuh selain kesakitan, ufa juga khawatir dengan ujian ufa. Kemarin kan ufa ga bisa belajar sama sekali bu. Ufa bingung mau cerita sama siapa, temen-temen ufa kan lagi mikir ujian mereka masing-masing juga."
Ibu: "Eeh, ngga boleh gitu. Ufa tetep harus cerita kalau ada apa-apa.
Walaupun kita terpisah jauh, ibu kan harus tau keadaanmu gimana."
Aku speechless, ngga nyangka ibu bisa bicara seperti itu.
Aku ngga boleh mengeluh!
Saturday, October 8, 2011
Kampanye Ala Kadarnya

Embun, kalau pagi-pagi kamu keluar, kamu pasti, eh insya Alloh, bakal nemuin embun di mana-mana.
Hujan. Pas lagi hujan, enak banget suasananya, momentnya cocok buat istirahat. Ngga enaknya kalo pas lagi di luar, atau pas lagi pengen keluar. Tapi hujan tuh menunjukkan kepasrahan. Maksudnya gini, hujan, walaupun lagi musimnya, kalo ngga ditakdirkan turun, ya ngga bakal turun. Tuh, hujan aja bisa pasrah. Kita juga cuma bisa pasrah nungguin hujan, ngeliatin hujan atau pasrah kehujanan.
Aku seneng banget kalau dengar suara gelembung air yang biasanya muncul pas lagi nuangin air. Klutuk klutuk klutuk.. gitu. Lebih seneng lagi kalau bisa liat gelembungnya. Suara air di keran, sungai, air terjun, wah rasanya nyess, adem di hati. Mungkin itu sedikit banyak disebabkan kelegaan karena masih bisa punya air bersih. Atau bisa juga karena ya, menganggap air itu kehidupan, lebay, eh tapi bukan sirik.
Friday, September 9, 2011
Bad Mood? Engga Mauuuu..
Wednesday, August 17, 2011
Surat untuk Ufa
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu, apa yang menemuimu, apa yang merintangimu, dan apa pula yang membantumu menjalani hidup yang akan datang. Dua tahun kedepan ini, kau akan menempuh jalan berliku untuk sampai pada Yudisium dan Wisuda. Walau ‘sekadar’ ilmu dunia, tak salah kan aku ingin kau sukses meraihnya agar kelak hidupmu terukir kebahagiaan dan mengukir kebahagiaan untuk orang lain dengan prestasi duniamu. Meski sempat tersandung, aku ingin kau bangkit dan melanjutkan perjalananmu dengan lebih baik lagi.
Ketika kau berbicara, ingatlah masa-masa ujian dimana kau merasa perkataan dan omong kosongmu selama ini tak membantumu dalam ujian.
Ketika kau malas belajar, ingatlah masa-masa ujian dimana kebodohan dan ketidaktahuan begitu terasa mematikan.
Ketika kau merasa bukumu begitu membosankan, ingatlah masa-masa ujian di mana kau menyadari bahwa buku itulah jawaban semua soal, lalu kau menyesal karena tidak kau tekuni dengan serius.
Ketika kau menyia-nyiakan waktu luangmu, ingatlah masa-masa ujian dimana kau tak dapat berbuat lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil yang baik.
Ketika kau merasa Allah tidak adil, ingatlah Allah masih memberimu kesempatan mengikuti ujian di kampus tercintamu untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.
Bersyukurlah. Tidak semua temanmu mendapatkan apa yang kau miliki. Bersyukurlah karena kau bisa berada di tempat di mana kau berada sekarang. Bersyukurlah karena kau bisa menyandang jas almamater kebanggaan. Bersyukurlah karena kau memilki takdir yang baik. Bersyukurlah…
SK, 16-08-11
15.34
Monday, August 15, 2011
Visi Cinta
Aku terhenyak sesaat. Tak tahu harus berkata apa. Bukan karena aku sedang mencintai seseorang atau tidak, bahkan aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ada seseorang yang kucintai saat ini.
Tentang cinta, pengetahuanku sangatlah sempit. Yang aku tahu, suatu saat ada masanya di mana akan kudapatkan cinta yang halal itu. Entah pada siapa, dari siapa, dan untuk siapa kuberikan cinta itu. Aku tak meminta pangeran setampan Nabi Yusuf yang turun dari seekor kuda putih. Toh, aku ini tak lebih dari sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Kebiasaan Baik? Bisa Kok! #1
Dua hari pulang, aku emperhatikan kalau setiap berbuka puasa, Prama selalu punya banyak makanan. Balam dendam mungkin ya, karena puasa seharian. Aku berkomentar saja, “Jajanmu kok banyak sih, dek, uangnya banyak ya!”
Monday, November 8, 2010
Momen
Wednesday, September 23, 2009
Love for Me I
Atau yang satu ini adalah pengalaman pribadi. Belakangan kegiatan belajarku berkurang gara-gara aku merasa minder karena prestasiku nggak secemerlang temanku yang uda nyampe olimpiade nasional. Aku kesulitan mengerjakan soal dan aku sama sekali nggak menyukainya. Dalam hati aku mengeluh kenapa bisa seperti ini sementara teman-teman belajar dengan baik. Menyedihkan, memalukan, dan seram.
Tapi begitukah seharusnya aku bersikap? Aku kehilangan semangat dan konsentrasi belajar, kemudian merasa bodoh dan jelek, lalu aku menyalahkan keadaanku sendiri. Sementara mungkin orang lain tidak berpendapat demikian. Suka atau tidak suka aku memang telah berbuat begitu pada diriku sendiri. Aku benci aku yang lemot, aku kesal, aku marah. Hingga suatu hari dia, temanku yang pandai itu menginspirasiku dengan istilahnya: love for me. Cinta untukku. Cinta untukku? Cinta buat gue? Haha, ya, batinku. Kenapa aku tidak bisa mencintai diriku yang kurang. Kenapa aku nggak bisa menerima kalau aku memang tidak bisa mengejar kepandaian temanku.
Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu. (Q.S. Muhammad 47 ayat 35)
Mengeluh memang manusiawi, tapi kalau kita coba untuk menerima dengan lapang dada dan berusaha memperbaiki kekurangan, insya Allah ga akan sia-sia. Allah, kan Maha-Segala-Bisa, iya kaaan…! Cintai diri sendiri, hm…Cinta Allah dan Rasul juga! Cihuuyyy..
Friday, August 21, 2009
Love For Choliq
Sebelum nyampe rumahnya Choliq, kupikir kami akan bertemu Choliq sedang duduk atau nonton. Masya Allah, ternyata Choliq hanya bisa terbaring. Tubuhnya kurus banget, tinggal tulang dibalut kulit, mungkin. kalau dia masi bisa senyum sih Alhamdulillah, tapi begitu kami masuk ke kamar, dia langsung nangis. Tangisannya pasrah banget. Dia malu ketemu dengan temen-temennya dengan kondisi kayak gitu. Nah, siapa yang ga terisak menyaksikan pemandangan tersebut?
Choliq teman kita ini punya masalah di alat pencernaannya. Bahkan di usianya yang masih muda, dia uda punya penyakit diabetes. Apalagi penyakitnya sekarang uda komplikasi, sungguh, penderitaannya berat banget.Tapi yang menderita ga hanya dia seorang. Ya, mereka adalah ibu dan bapaknya Choliq. Saat ibunya menceritakan keadaannya selama beberapa waktu terakhir, beliau cuma bisa membiarkan air matanya turun. ga dilap. Bapaknya juga keliatan tegar banget. Tapi, bisa apa kita sebagai manusia biasa.
Keadaan Choliq seperti itu bukan tanpa usaha untuk menyembuhkannya, lho. Bahkan guru kita dari SMA 1 Pati pun ada yang memberikan bantuan lewat jarak jauh. Tapi memang sudah garis Allah SWT kalau dia akan menghadapi cobaan itu.
Choliq sekarang butuh doa dan support dari kami temen-temennya, meskipun dia malu ketemu kami. Wajar kalau yang dia inginkan adalah kematian, karena menurutku memang ga enak hidup dalam kondisi seperti itu, makan ga bisa, tidur bosen, mau melakukan aktivitas menghisap banyak energinya yang tak seberapa. Bagian yang menurtku ironis adalah ketika dimana ia hidup, bernapas, mendengarkan musik atau menonton TV, tetapi ia berpikir cepat atau lambat kematian akan datang kepadanya.
Meski begitu, kami temen-temennya peduli dan terus berdoa untuk kesembuhan Choliq, berapapun banyaknya dokter yang memvonis dia tidak punya banyak kesempatan.
Teman-teman, mari kita kirimkan doa untuk sahabat kita Windha Choliq. "Ya Allah! Berikanlah ia kesembuhan, umur panjang dan barokah, bisa membahagiakan kedua Orang Tuanya, bisa menghapus air mata Ibundanya, bisa membuat ayahnya membusungkan dada karena bangga terhadapnya, dan bisa berdakwah demi tegaknya Sabilillah." Amiin


