Key, dari mana aku harus mengatakan ini, ya? Sepertinya aku bikin kesalahan lagi. Tapi ini nggak seperti biasanya. Nggak seperti kecerobohanku ketika mematahkan keran air, lalu kamu segera membetulkannya dan membuatku nggak lagi panik.
Showing posts with label daily. Show all posts
Showing posts with label daily. Show all posts
Friday, September 27, 2013
Thursday, April 26, 2012
Mas Nicholas, Aku Padamu
Sebenarnya kejadian ini udah lama,
seminggu yang lalu, dan sore ini entah kenapa aku teringat kejadian itu. So, aku
mau cerita, in case ada yang suudzon padaku.
Aku sama temen-temen kosku sudah
berencana untuk nonton Pringgandana. Aku nggak terlalu yakin dengan acara itu,
katanya sih itu acara besarnya Sabdanusa STAN. Drama musikal mungkin, tentunya
dengan tari-tarian. Entahlah, aku adalah salah satu orang yang nggak beruntung
karena tidak menonton acara besar itu.
Categories
daily
Tuesday, February 14, 2012
Sampai Jumpa Ujian!!
Wow, finally UAS semester ini berakhir juga. Ditutup dengan tragis oleh ujian Cost Accounting yang bikin mules. Maunya sih kita kayang rame-rame di Lapangan A, selebrasi cyiin. Apa daya temen-temen pada galau semua. Mereka bilang mereka ga bisa ngerjain! Sama, aku juga ga terlalu bisa ngerjain! Beneran. Yah, ini pada histeris sendiri-sendiri. Gagal kayang.
“Aduh, piye iki ujianku????”
“An*** lah, gue nyalin soal doang!”
Di jalan, aku ketemu Dani Feb. Mukanya kusut banget, tambah kusut setelah gagal dapet tumpangan motor Edi yang ga denger dipanggil-panggil.
“Aduh, piye iki ujianku????”
“An*** lah, gue nyalin soal doang!”
Di jalan, aku ketemu Dani Feb. Mukanya kusut banget, tambah kusut setelah gagal dapet tumpangan motor Edi yang ga denger dipanggil-panggil.
Sunday, January 15, 2012
What's Wrong with My New Skin?
Ganti kulit! Iyaa... aku pengen ganti tampilan blog ini. Dan aku jatuh cinta dengan skin Simplicity 2.0. Really simple, look fresh.
Tapi, kalo form komennya ga bisa muncul?
Aaa.. tidaaak!!!
what shud i do nih??
Sempet revert widget ke default, hasilnya malah aneh. Header font-nya jadi ga bisa pink. Padahal niat aku ganti ke template ini kan biar warnanya jadi pink. Huaaa... T~T
Aaargh.. yauda, saking ga bisa ngapa-ngapain, aku balikin ke template klasik. Jadul.
Well, ada yang punya template bagus??
Tapi, kalo form komennya ga bisa muncul?
Aaa.. tidaaak!!!
what shud i do nih??
Sempet revert widget ke default, hasilnya malah aneh. Header font-nya jadi ga bisa pink. Padahal niat aku ganti ke template ini kan biar warnanya jadi pink. Huaaa... T~T
Aaargh.. yauda, saking ga bisa ngapa-ngapain, aku balikin ke template klasik. Jadul.
Well, ada yang punya template bagus??
Categories
blog,
daily,
iseng-iseng berhadiah
Sunday, December 4, 2011
Kamu Ngapain Aja Selama Liburan???
Besok itu uda masuk kuliah lagi loh. cepet banget. Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, sebenernya itu uda cukup buat liburan deh. Tapi, yah namanya juga manusia, suka merasa kurang dengan apa yang uda didapat.
Well, tapi walaupun ga bisa tidur berjam-jam seperti yang aku rencanakan sebelumnya, alhamdulillah, sepertinya waktu liburku cukup kumanfaatkan dengan baik.
Ah, aku mau list apa aja yang uda aku lakuin selama liburan.
Rabu: check up, servis motor, belanja
Kamis: asrama
Jumat: asrama juga, nyuci baju
Sabtu: asrama lagi, ngegosok baju
Minggu: ketemu mbah putri, bengong sampe sore, nderes hadits.
Eh, kok aku ngga punyawaktu keinginan untuk kelayapan yah?
Kelainan!
Well, tapi walaupun ga bisa tidur berjam-jam seperti yang aku rencanakan sebelumnya, alhamdulillah, sepertinya waktu liburku cukup kumanfaatkan dengan baik.
Ah, aku mau list apa aja yang uda aku lakuin selama liburan.
Rabu: check up, servis motor, belanja
Kamis: asrama
Jumat: asrama juga, nyuci baju
Sabtu: asrama lagi, ngegosok baju
Minggu: ketemu mbah putri, bengong sampe sore, nderes hadits.
Eh, kok aku ngga punya
Kelainan!
Categories
daily
Tuesday, November 29, 2011
Catatan Sakit Mata: Everything Can Happen, But I Wish the Best :)
Alhamdulillah. UTS semester ini uda selesai. Sekarang aku mau cerita, masih tentang sakit mataku. Mudah-mudahan kamu yang membaca ceritaku bisa mengambil hikmahnya. Apa aja. Kemarin aku kembali mendatangi dokter spesialis mata yang merawatku. Namanya.. ah kalau aku beri tau namanya kamu belum tentu mengenalnya kan. Sudahlah, nggak terlalu penting.
Ketika beliau memeriksa mataku dengan alat.. entahlah, beliau terkejut. “Ini sudah parah sekali, Nabil.” Beliau kemudian membuka kelopak mataku yang bengkak. “Kornea kamu sudah kena,” lanjutnya, “virusnya sudah mengganas ini.”
Saturday, November 26, 2011
Catatan Sakit Mata: Ada yang Terlupa
Kemarin malam ada pengajian yang harus kudatangi. Mau ngga mau, aku harus datang walau dengan mata diperban. Sebenernya aku mau kok datang ke pengajian. Yang ngga mau, orang-orang jadi pada tau kalau aku sakit.
Betul kan, ibu-ibu di pengajian banyak yang menanyakan mengapa aku bisa seperti ini. Ya kalau ditanya mengapa, aku ngga bisa jawab. Dokter mungkin lebih tau, dan tentunya Alloh yang paling tau ya, hehe. Sebenarnya aku benci kalau banyak yang tau bahwa aku sedang sakit. Tapi, menurutku perlu juga sih memberi tahu orang lain kalau kita sedang sakit, maksudnya makin banyak yang tau, makin banyak yang mendoakan kita supaya cepat sembuh. Ya, ambil positive things aja lah.
Esok paginya aku terbangun dengan kaget. Innalillahi, aku ga bangun malam. Kebiasaan kalau lagi ngga solat, bangun malam pun ketinggalan.
Categories
daily,
hikmah,
motivasi,
up to date
Catatan Sakit Mata: Jangan Sedih, Kesabaranmu Tengah Diuji
Episode sebelumnya: Aku akhirnya menumpahkan semua bebanku dalam sms pada ibu dan bapak.
Begitu pesan itu kukirimkan, tiba-tiba aku menyesal. Kenapa aku malah mengeluh, bisa-bisa ibu dan bapak semakin mengkhawatirkanku.
Ibu membalas smsku dan berkata, ibu selalu mendoakanku. Aku berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Ketika hendak berangkat ujian, bapak meneleponku. Ya, beliau membesarkan hatiku.
Bapak: "Ini lagi di mana?"
Aku: "Masi di rumah, pak. Ini mau berangkat sekarang"
Bapak: "Jangan terlalu dipikirkan ujiannya, mbak. Nggak apa-apa ujiannya semampunya saja. Banyak doa, mbak harus yakin sama pertolongan Alloh. Sing sabar mbak."
Mendengar suara bapak yang dalam dan menenangkan, hatiku semakin terenyuh. Akhirnya pecah tangisku. Rasa syukur, haru, kangen, dan gelisah yang berubah jadi ketenangan bercampur jadi satu.
Aku menjawab "iya" sambil terisak. Mataku terasa semakin pedih karena terkena air mata.
"Sudah, sudah, mbak. Banyak doa, banyak doa ya."
Alhamdulillah, Alloh memberiku kemampuan dalam menjawab soal-soal intermediate accounting itu.
Sorenya, bapak kembali menelepon. Menanyakan keadaanku dan ujianku paginya.
Tak lama ibu pun menelepon, sama, menanyakan bagaimana keadaanku.
Ibu: "Tadi Ufa nangis ya? Kata bapak tadi ufa nangis waktu ditelepon."
Aku: "Iya bu. Hee. Sebenernya ufa tadi ga kepengen nangis. Tapi karena ufa denger suara bapak, malah jadi kepengen nangis." (aku bingung menjelaskannya pada ibu)
Ibu: "Yauda, ufa harus sabar ya."
Aku: "Sebenernya ufa ga mau cerita, bu. Ufa ngga mau bikin ibu sama bapak kepikiran. Tapi tadi pagi tuh selain kesakitan, ufa juga khawatir dengan ujian ufa. Kemarin kan ufa ga bisa belajar sama sekali bu. Ufa bingung mau cerita sama siapa, temen-temen ufa kan lagi mikir ujian mereka masing-masing juga."
Ibu: "Eeh, ngga boleh gitu. Ufa tetep harus cerita kalau ada apa-apa.
Aku speechless, ngga nyangka ibu bisa bicara seperti itu.
Begitu pesan itu kukirimkan, tiba-tiba aku menyesal. Kenapa aku malah mengeluh, bisa-bisa ibu dan bapak semakin mengkhawatirkanku.
Ibu membalas smsku dan berkata, ibu selalu mendoakanku. Aku berusaha menguatkan hatiku sendiri.
Ketika hendak berangkat ujian, bapak meneleponku. Ya, beliau membesarkan hatiku.
Bapak: "Ini lagi di mana?"
Aku: "Masi di rumah, pak. Ini mau berangkat sekarang"
Bapak: "Jangan terlalu dipikirkan ujiannya, mbak. Nggak apa-apa ujiannya semampunya saja. Banyak doa, mbak harus yakin sama pertolongan Alloh. Sing sabar mbak."
Mendengar suara bapak yang dalam dan menenangkan, hatiku semakin terenyuh. Akhirnya pecah tangisku. Rasa syukur, haru, kangen, dan gelisah yang berubah jadi ketenangan bercampur jadi satu.
Aku menjawab "iya" sambil terisak. Mataku terasa semakin pedih karena terkena air mata.
"Sudah, sudah, mbak. Banyak doa, banyak doa ya."
Alhamdulillah, Alloh memberiku kemampuan dalam menjawab soal-soal intermediate accounting itu.
Sorenya, bapak kembali menelepon. Menanyakan keadaanku dan ujianku paginya.
Tak lama ibu pun menelepon, sama, menanyakan bagaimana keadaanku.
Ibu: "Tadi Ufa nangis ya? Kata bapak tadi ufa nangis waktu ditelepon."
Aku: "Iya bu. Hee. Sebenernya ufa tadi ga kepengen nangis. Tapi karena ufa denger suara bapak, malah jadi kepengen nangis." (aku bingung menjelaskannya pada ibu)
Ibu: "Yauda, ufa harus sabar ya."
Aku: "Sebenernya ufa ga mau cerita, bu. Ufa ngga mau bikin ibu sama bapak kepikiran. Tapi tadi pagi tuh selain kesakitan, ufa juga khawatir dengan ujian ufa. Kemarin kan ufa ga bisa belajar sama sekali bu. Ufa bingung mau cerita sama siapa, temen-temen ufa kan lagi mikir ujian mereka masing-masing juga."
Ibu: "Eeh, ngga boleh gitu. Ufa tetep harus cerita kalau ada apa-apa.
Walaupun kita terpisah jauh, ibu kan harus tau keadaanmu gimana."
Aku speechless, ngga nyangka ibu bisa bicara seperti itu.
Ibu: “Halo? Ufa?”
Aku: “Ya bu. Kalo ufa cerita, ufa takut ibu nanti khawatir.”
Ibu: ”Ya kalo ufa tegar, ufa sabar, ibu di sini juga bisa tegar kok. Tapi dari kamunya yang harus bisa nguat-nguatin diri. Dengan gitu, ibu ngga akan terlalu khawatir. Ya namanya ibu masa ngga khawatir sama anaknya, apalagi ngga di rumah.”
Lagi-lagi aku hanya terdiam. Jarang sekali Ibu berkata seperti itu. Tapi perkataan ibu benar. Aku harus lebih banyak bersabar.
Aku ngga boleh mengeluh!
Ibu kemudian bertanya kapan aku pulang. Beliau bilang adik-adik sudah menungguku karena kami akan touring ke Jogja dan sekitarnya begitu aku pulang.
Aku: "Oh, jadi nungguin ufa pulang karena ngarep jalan-jalannya nih?"
Ibu hanya tertawa.
Ibu: “Eh, bapak uda pulang tuh. Udah dulu, fa. Ya pokoknya ufa banyak doa, yang sabar aja fa. Ya?’
Aku: “Iya bu. Insya Alloh. Alhamdulillah jazakillahu khoiro, ya, bu”
Telepon kututup, dan aku masih berpikir. Tentang sakit ini, benar ini adalah cobaan. Yang namanya cobaan, tentu Alloh punya maksud mengapa aku dicoba seperti ini. Bisa jadi aku punya suatu kesalahan atau dosa, lalu Alloh memperingatkanku lewat cara aku disakitkan. Barangkali pula, ini adalah salah satu ujian kesabaran. Sejauh mana aku bisa sabar. Andaikata ini memang ujian kesabaran, aku ingin lulus dengan nilai yang baik. Maksudku, walau kulewati dengan susah payah, aku mau kesabaranku nanti bisa berbuah menjadi hal-hal lain yang baik.
Sunday, October 30, 2011
Nikah Nikah..Yuk
Nikah? Yuh! Ayo, kita datang ke pernikahannya orang. Bukan ngajak nikah maksudnyah, haha! Diundang ke acara walimatul ursy? Uda biasa. Yang nggak biasa itu ketika diundang ke acara walimatul ursy-nya dosen. Jarang banget, langka. Aku dan teman-teman berangkat ke Serpong, naik metromini. Yah, uda cantik-cantik naik metromini. Yah, gapapalah, pengalaman naik metromini.
Kami berangkat sekitar pukul sepuluh dan sampai di lokasi sekitar lima belas menit kemudian. Saat kita sampai, dosen kami, Bu Lidiya dan suaminya belum nongol di panggung. Wah, alamat kepagian nih kita datangnya. Pas nyari temen-temen, masya Alloh, uda pada ngantri es krim. Es Krim Bea Cukai, kata temen-temen, mengingat ternyata yang punya usaha es krim itu (cerita Bu Lidiya) adalah orang Bea Cukai.
Akhirnya Bu Lidiya dan suaminya muncul. Jeng jeng jreeeng. Subhanalloh, cantik banget si ibu. Pengen salaman, tapi yang lain sibuk makan. Yauda deh, ikutan makan. Salamannya nanti aja, hehe.
Sambil dengerin nasyid yang dibawakan oleh… errr siapa yah, kata si Dessa sih itu grup nasyidnya anak STAN juga, aku menikmati hidangan yang ada di sana. Emang dari rumah udah nawaitu mau makan enak dan gretongan sih, haha, jadi semua rata-in, dicobain satu-satu. Yah, maklum anak kos, jarang makan makanan mewah.
Trus grup nasyid itu nyanyiin lagunya Maher Zain, yang judulnya Barokallahu Lakuma itu loh. Teringat kata Om Hadi semalam saat pengajian PPG, barokah artinya banyak kebaikan.
Aku melihat dua sejoli yang baru aja disatukan oleh ikatan akad nikah itu. Emang sih, orang nikah itu banyak bawa kebaikan, ya buat pasangan tersebut dan buat orang lain. Gampangnya, dengan menikah, kedua orang tersebut menyatukan dua keluarga yang tadinya nobody menjadi somebody, terus, buat orang lain, ya macam aku dan kawan-kawan. Kami bisa datang ke resepsi pernikahan mereka, bisa makan enak, bisa ketemu temen lama di acara itu, bisa dapet temen baru juga. Wah, bener deh, barokah banget.
Oke, untuk dokumentasi, mari kita tunggu si Dessa untuk mengunggahnya. Oke?
Kami berangkat sekitar pukul sepuluh dan sampai di lokasi sekitar lima belas menit kemudian. Saat kita sampai, dosen kami, Bu Lidiya dan suaminya belum nongol di panggung. Wah, alamat kepagian nih kita datangnya. Pas nyari temen-temen, masya Alloh, uda pada ngantri es krim. Es Krim Bea Cukai, kata temen-temen, mengingat ternyata yang punya usaha es krim itu (cerita Bu Lidiya) adalah orang Bea Cukai.
Akhirnya Bu Lidiya dan suaminya muncul. Jeng jeng jreeeng. Subhanalloh, cantik banget si ibu. Pengen salaman, tapi yang lain sibuk makan. Yauda deh, ikutan makan. Salamannya nanti aja, hehe.
Sambil dengerin nasyid yang dibawakan oleh… errr siapa yah, kata si Dessa sih itu grup nasyidnya anak STAN juga, aku menikmati hidangan yang ada di sana. Emang dari rumah udah nawaitu mau makan enak dan gretongan sih, haha, jadi semua rata-in, dicobain satu-satu. Yah, maklum anak kos, jarang makan makanan mewah.
Trus grup nasyid itu nyanyiin lagunya Maher Zain, yang judulnya Barokallahu Lakuma itu loh. Teringat kata Om Hadi semalam saat pengajian PPG, barokah artinya banyak kebaikan.
Aku melihat dua sejoli yang baru aja disatukan oleh ikatan akad nikah itu. Emang sih, orang nikah itu banyak bawa kebaikan, ya buat pasangan tersebut dan buat orang lain. Gampangnya, dengan menikah, kedua orang tersebut menyatukan dua keluarga yang tadinya nobody menjadi somebody, terus, buat orang lain, ya macam aku dan kawan-kawan. Kami bisa datang ke resepsi pernikahan mereka, bisa makan enak, bisa ketemu temen lama di acara itu, bisa dapet temen baru juga. Wah, bener deh, barokah banget.
Oke, untuk dokumentasi, mari kita tunggu si Dessa untuk mengunggahnya. Oke?
Friday, October 14, 2011
Let's be Friends :)
Pagi ini, ketika sedang mereview persiapan presentasi makroekonomi, tiba-tiba sebuah sms masuk. Siapa, ya? Tanyaku dalam hati. Tanpa banyak ba bi bu aku membuka sms itu.
Tiba-tiba terlintas memori yang terekam kemarin. Siang itu kami baru saja pindah kelas dari I303 ke J201. Setelah kelas Perpajakan berakhir, kami masih harus mengikuti kelas Akuntansi Biaya. Di antara dua mata kuliah itu ada waktu jeda untuk solat dzuhur.
Ketika hendak solat, ia memanggil, menanyakan sudah sejauh mana tugas kelompok makroekonomi kami. Ya, kami sekelompok dalam tugas itu. “Bil, tugas kita gimana? Lo yang buat kan?” Ia lalu menyejajari langkahku, as if we walk together.
“Uda kok, uda beres,” kataku sambil berjalan.
Ia tersenyum puas. “Wah, sip! Emang deh, Nabila emang..” sepertinya ia melemparkan kata pujian. Lupa bagaimana tepatnya, yang aku ingat aku hanya tersenyum aneh.
Dan di sanalah, kemudian dia menepuk bahuku. Aku sedikit terkesiap. Dalam hati, “Waduh, ngapain nih?” Tapi aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanya berjalan sambil sedikit menjauh. Sambil berjalan aku berpikir, apa aku harus mengingatkannya untuk tidak berbuat seperti itu pada perempuan? Ini kan baru dua minggu kami sekelas. Masih dalam tahap mengenal satu-sama lain. Aku belum tahu watak teman-teman seperti apa. Dan menurutku sama sekali tidak lucu juga kalau tiba-tiba aku ceramah, mendalil di depan teman-teman tentang pergaulan laki-laki dan perempuan. Nabi juga dulu saat berdakwah tidak langsung frontal kan pada masa-masa awal kerasulannya.
Dilema. Bagaimana pun sikapku kurang benar kalau aku Cuma diam saja. Tapi kenyataannya memang aku tidak berkata apa-apa lagi setelah itu.
Dan, kau tahu sendiri kelanjutannya. Sms darinya kuakui cukup membuatku terkejut. Tapi tak ayal aku tertawa lepas. Aku malah berpikir, apa dia memikirkan sampai seperti itu, sementara aku sendiri langsung lupa dengan masalah itu. Aku jadi kasihan padanya. Haha, lucu!
Dalam hati aku berkata, “Waw, kok bisa tau ya?” Aku berpikir sebentar, kemudian mengetik sebuah balasan untuknya.
Di kelas, kami tetap akrab. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, dan aku senang. Kami masih tetap bisa berdiskusi tentang pelajaran, masih bisa sedikit melempar joke-joke ringan. Oh, iya. Walaupun aku sedikit membatasi pergaulanku dengan teman-teman laki-laki, bukan berarti aku tidak mau berteman dengan mereka, loh! Aku senang bergaul dengan teman laki-laki. Mereka bahkan bisa lebih fun dibanding teman-teman perempuan dan lebih bisa membuatku nyaman berteman dengan mereka daripada teman perempuan yang kelihatan punya kepentingan sendiri. Lagipula di kampus kami, jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan. Interaksi dengan teman laki-laki kan tidak bisa dihindari. Hanya saja aku berusaha menghindari, ya.. such kontak fisik, atau sms yang sifatnya melanggar barangkali. Atau bisa saja sesuatu yang tidak boleh, tapi aku lupa. Ya, aku akan berusaha menghindarinya.Agak pas juga dengan nasihat Pak Dawa’i selepas solat Jumat. Beliau membahas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya bahwa jarak terdekat laki-laki dan perempuan adalah satu meter. Tidak boleh lebih dekat lagi. Ya, aku akan berusaha, insya Allah!
Jadi, tenang saja. Aku orangnya suka bergaul kok, mungkin pertama kali kesannya aku ini sombong, atau pendiam. Yah, risiko punya wajah antagonis (kata teman-teman). Lihat saja nanti bagaimana kalau sifat asliku muncul. Yasudah, yang penting ayo kita berteman!
Maaf ya kmrn gw nepok pundak lo, gw lg excited wktu itu, jadi lupa kl lo cwe krudungan..jd ngrasa salah gw..(aku sensor, no offense)
*****
Tiba-tiba terlintas memori yang terekam kemarin. Siang itu kami baru saja pindah kelas dari I303 ke J201. Setelah kelas Perpajakan berakhir, kami masih harus mengikuti kelas Akuntansi Biaya. Di antara dua mata kuliah itu ada waktu jeda untuk solat dzuhur.
Ketika hendak solat, ia memanggil, menanyakan sudah sejauh mana tugas kelompok makroekonomi kami. Ya, kami sekelompok dalam tugas itu. “Bil, tugas kita gimana? Lo yang buat kan?” Ia lalu menyejajari langkahku, as if we walk together.
“Uda kok, uda beres,” kataku sambil berjalan.
Ia tersenyum puas. “Wah, sip! Emang deh, Nabila emang..” sepertinya ia melemparkan kata pujian. Lupa bagaimana tepatnya, yang aku ingat aku hanya tersenyum aneh.
Dan di sanalah, kemudian dia menepuk bahuku. Aku sedikit terkesiap. Dalam hati, “Waduh, ngapain nih?” Tapi aku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hanya berjalan sambil sedikit menjauh. Sambil berjalan aku berpikir, apa aku harus mengingatkannya untuk tidak berbuat seperti itu pada perempuan? Ini kan baru dua minggu kami sekelas. Masih dalam tahap mengenal satu-sama lain. Aku belum tahu watak teman-teman seperti apa. Dan menurutku sama sekali tidak lucu juga kalau tiba-tiba aku ceramah, mendalil di depan teman-teman tentang pergaulan laki-laki dan perempuan. Nabi juga dulu saat berdakwah tidak langsung frontal kan pada masa-masa awal kerasulannya.
Dilema. Bagaimana pun sikapku kurang benar kalau aku Cuma diam saja. Tapi kenyataannya memang aku tidak berkata apa-apa lagi setelah itu.
Dan, kau tahu sendiri kelanjutannya. Sms darinya kuakui cukup membuatku terkejut. Tapi tak ayal aku tertawa lepas. Aku malah berpikir, apa dia memikirkan sampai seperti itu, sementara aku sendiri langsung lupa dengan masalah itu. Aku jadi kasihan padanya. Haha, lucu!
Dalam hati aku berkata, “Waw, kok bisa tau ya?” Aku berpikir sebentar, kemudian mengetik sebuah balasan untuknya.
Iya ***, gpp. Nyadar jg km, haha. Kmrn sih aku kaget, tp diem aja, paling km khilaf kan, haha.. XDAku berusaha sehalus dan sesantai mungkin. Lagi pula aku sama sekali tidak marah. Bahkan kalaupun ia tidak mengirimiku sms itu, aku bisa mengerti kalau dia belum mengenali watakku dan paham tentang keyakinanku.
Dibikin sante aja ***, asal jgn diulangi lg
Di kelas, kami tetap akrab. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, dan aku senang. Kami masih tetap bisa berdiskusi tentang pelajaran, masih bisa sedikit melempar joke-joke ringan. Oh, iya. Walaupun aku sedikit membatasi pergaulanku dengan teman-teman laki-laki, bukan berarti aku tidak mau berteman dengan mereka, loh! Aku senang bergaul dengan teman laki-laki. Mereka bahkan bisa lebih fun dibanding teman-teman perempuan dan lebih bisa membuatku nyaman berteman dengan mereka daripada teman perempuan yang kelihatan punya kepentingan sendiri. Lagipula di kampus kami, jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan. Interaksi dengan teman laki-laki kan tidak bisa dihindari. Hanya saja aku berusaha menghindari, ya.. such kontak fisik, atau sms yang sifatnya melanggar barangkali. Atau bisa saja sesuatu yang tidak boleh, tapi aku lupa. Ya, aku akan berusaha menghindarinya.Agak pas juga dengan nasihat Pak Dawa’i selepas solat Jumat. Beliau membahas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya bahwa jarak terdekat laki-laki dan perempuan adalah satu meter. Tidak boleh lebih dekat lagi. Ya, aku akan berusaha, insya Allah!
Jadi, tenang saja. Aku orangnya suka bergaul kok, mungkin pertama kali kesannya aku ini sombong, atau pendiam. Yah, risiko punya wajah antagonis (kata teman-teman). Lihat saja nanti bagaimana kalau sifat asliku muncul. Yasudah, yang penting ayo kita berteman!
Categories
daily,
iseng-iseng berhadiah
Friday, October 22, 2010
Catatan Malam Pertama
Ha, malam pertama. Betul, hari ini 19 September 2010 adalah malam pertamaku keluar dari rumah. Dan di malam pertamaku ini, aku diqodar sendirian di kamar. Ketika membaca quran terhalang keadaan, hanya notebook pemberian Bapak yang kujadikan teman.
Biasanya kalau merasa sepi atau sendiri, aku merasa jadi orang yang paling malang dan menyedihkan di dunia ini. Apa ini terjadi pada orang lain, entahlah, tapi beginilah aku adanya saat ini. Lihat, bahasa yang kutulis seserius ini, juga terdengar melow (apaan sih melow, kayaknya engga ada di kamus deh). Padahal biasanya tulisanku asal sahut saja.
Diingat-ingat, biasanya jam segini Rafi mencariku, “Mbak, mau bobo...”. Lalu aku mulai cerewet menyuruh Prama dan Rafi untuk pipis sebelum tidur. Sekarang apa kabar, ya, di sana? Siapa yang menemani mereka tidur?
Atau mungkin aku lagi nonton. Atau mungkin kalau engga ada acara menarik di TV, ya internetan. Ah, selamat tinggal era internet gratis sepuasnya dibayarin bapak. Selamat datang era nyari hotspot atau warnet, hiks..hiks.... sudah engga bisa posting, browsing, uploading, downloading.. sesuka hati, nih. Ah, dunia yang indah.
Di rumah pasti akan banyak hal yang kurindukan. Keributan di pagi hari, antri mandi, kaus kaki hilang sebelah, makanan tumpah di seragam.... Atau ketika jam sepuluh ketika aku buru-buru pergi menjemput Prama. Lalu melihat betapa ganteng dan cool-nya adikku dari gerbang sekolah, berjalan dan melambaikan tangannya padaku. Duh, duh, adikku masih kecil tapi cool-nya engga nguatin deh. Hihi, malah ganjen.
Aku juga senang melihat Ifa, Afi, Ofi yang misuh-misuh engga jelas gara-gara aku kerjain atau kucerewetin. Haha, barangkali ngedumelnya, “Heran, punya Mbak kok ajaib gini. Cerewet stadium akhir,”
Juga ketika aku menggoda ibu, manggil-manggil engga jelas, “Hey, Mommy!”
“What?”
“Engga..”
Atau ketika aku menertawakan ibu yang digoda bapak. Ah, bapak selalu saja punya bahan godaan buat ibu.
Kalau kuingat terus yang ada di rumah, ya memang engga akan ada habisnya. Rumahku adalah sumber kebahagiaan, sumber kenangan, sumber inspirasi. Dan kalau kuingat ternyata aku sudah tak lagi menjadi bagian dari kisah-kisah di rumah, ah, membangkitkan kesedihanku deh.
Yah, barangkali dari sinilah aku diuji. Apakah aku mampu melangkah seorang diri. Apakah mampu aku menyesuaikan diri. Akan terasa sulit, sepertinya (sok tau) tapi aku harus bersikap realistis. Aku punya rumah baru, keluarga baru dan peraturan baru. Dan aku harus cocok dengan semua yang baru itu.
Kubaca lagi tulisanku, kedengarannya lebay, ya? Apalagi kalau yang baca kakak-kakak tingkat yang sudah banyak pengalaman. Barangkali komentar mereka, “Ah, nanti juga biasa!”. Ya memang betul sih, nanti juga biasa. Aku tau. Tapi menurutku engga salah kan kalau aku menciptakan momen penting dari momen yang engga penting ini?
Triplek Atas, 19 September 2010
Antara sepi dan penyesalan...
Categories
daily,
iseng-iseng berhadiah,
Menulis
Subscribe to:
Posts (Atom)

