Dear Ufa,
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu, apa yang menemuimu, apa yang merintangimu, dan apa pula yang membantumu menjalani hidup yang akan datang. Dua tahun kedepan ini, kau akan menempuh jalan berliku untuk sampai pada Yudisium dan Wisuda. Walau ‘sekadar’ ilmu dunia, tak salah kan aku ingin kau sukses meraihnya agar kelak hidupmu terukir kebahagiaan dan mengukir kebahagiaan untuk orang lain dengan prestasi duniamu. Meski sempat tersandung, aku ingin kau bangkit dan melanjutkan perjalananmu dengan lebih baik lagi.
Ketika kau berbicara, ingatlah masa-masa ujian dimana kau merasa perkataan dan omong kosongmu selama ini tak membantumu dalam ujian.
Ketika kau malas belajar, ingatlah masa-masa ujian dimana kebodohan dan ketidaktahuan begitu terasa mematikan.
Ketika kau merasa bukumu begitu membosankan, ingatlah masa-masa ujian di mana kau menyadari bahwa buku itulah jawaban semua soal, lalu kau menyesal karena tidak kau tekuni dengan serius.
Ketika kau menyia-nyiakan waktu luangmu, ingatlah masa-masa ujian dimana kau tak dapat berbuat lebih banyak lagi untuk mendapatkan hasil yang baik.
Ketika kau merasa Allah tidak adil, ingatlah Allah masih memberimu kesempatan mengikuti ujian di kampus tercintamu untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.
Bersyukurlah. Tidak semua temanmu mendapatkan apa yang kau miliki. Bersyukurlah karena kau bisa berada di tempat di mana kau berada sekarang. Bersyukurlah karena kau bisa menyandang jas almamater kebanggaan. Bersyukurlah karena kau memilki takdir yang baik. Bersyukurlah…
SK, 16-08-11
15.34
Wednesday, August 17, 2011
Catatan Galau
“Mw bikin galau yg lagi asik liburan ah… Kira2 kapan ya pengumuman ip? gak ada kepastian nilai ni… ada yang lagi cenat-cenut gk ni…hehe”Begitu postingan seorang teman dalam grup kelas di Facebook. Wah, minta dibata dia.
Aku jadi memikirkan bagaimana kira-kira IP-ku nanti. Apakah nanti hasilnya akan baik atau baik, entahlah, aku sama sekali tidak bisa memprediksi kira-kira berapa angka yang keluar. Ini jelas berkaitan dengan prestasi belajarku. Aku menyadari, semester ini aku tidak berusaha dengan maksimal. Aku mengakui bahwa aku kurang belajar, kurang berusaha memahami pelajaran, terkantuk saat kuliah, dan menyerah begitu saja ketika ada hal yang tidak kupahami.
Parahnya lagi, aku dikuasai rasa malas. Bukan hanya urusan kuliah, bahkan aku pun mulai malas mendatangi mesjid, malas mendatangi pengajian ba’da subuh, atau sekadar solat berjamaah. Malas, tak bersemangat, tak ada keinginan sama sekali untuk berkembang.
Satu semester, selama itulah aku terjebak dalam penyakit ini. Sungguh dalam masa itu aku menyadari ada yang salah dalam diriku. Masalahnya aku pun tak memiliki semangat untuk merubah hidupku yang kacau itu.
Kalau ditanya apa aku galau, ya iyalah, jelas aku galau. Ini kan erat kaitannya dengan hidupku. Aku baru menyesal tatkala kusadari, betapa satu semester yang kusia-siakan itu sungguh akan sangat berpengaruh. Tentu saja karena pada kasus ini IP-ku sangat berpengaruh pada kelanjutan studiku. Itu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya benar-benar menakut-nakutiku, kuakui. Yah, rasanya seperti kehilangan masa muda saja dihantui hal seperti itu.
IP? Entahlah. Tak henti-henti aku meminta belas kasih Allah agar IP-ku tidak terjun bebas. Walaupun aku telah mengutarakan hal ini pada Ibu dan Bapak, setidaknya mereka tidak akan terlalu kecewa apabila IPku hanya turun sedikit, atau minimal seperti semester lalu lah. Masalahnya aku teramat yakin IPku akan turun! Pikiran inilah yang tidak bisa dibiarkan, aku butuh bantuan untuk melawannya!
Walau begitu aku tetap optimis!! Proceed! Aku berusaha meyakinkan diriku dan membangun pikiran positif, aku akan menyelesaikan studiku tepat waktu, tiga tahun. Akan kujalani semester tiga, empat, lima dan enam, dilanjutkan yudisium dan wisuda kelak, seperti rencana hidupku. Ayolah, aku pasti bisa melewatinya, insya Allah! Bisa! Bisa! Bisa!
SK, 16-08-11
13.58
Categories
Galau
Pasmina
Aku dan ibu baru saja pulang dari berburu jilbab untuk hari raya nanti ketika tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Kenapa ibu ngga beli pasmina aja”
Ibu mengrenyitkan dahi, “Pasmina? Engga ah! Ibu ngga suka!”
“Ngga suka gimana? Bagus, bu, nutup aurot kok,” kali ini giliran aku yang mengrenyitkan dahi, heran.
Aku bergegas ke kamar dan mengambil selembar pasmina yang kubeli di Blok M beberapa waktu lalu. Kupakai pasmina abu-abu polkadot itu untuk kutunjukkan pada ibu.
“Nih, bu, cantik kan?” aku bergaya di depan cermin. Ibu mendekat dan melihat bayanganku dari cermin, “Bagus sih,”
Finally!
“Ah, tapi pasmina ngga cocok buat pipi chubby kayak ibu,” lanjut ibu.
Yah!
Aku penasaran, masa iya sih, ngga cocok buat ibu. Aku pun memaksanya untuk mencoba. “Ayolah bu, coba dulu.”
Ibu menyerah. Akhirnya beliau mau mencoba memakainya. Aku membantu mengenakan ke kepalanya. “Bagus, kan, bu!” kataku sambil menatanya. Ibu mengiyakan.
“Eh, iya, ya, engga jelek. Cari pasmina di mana ya?”
Aku semangat, membayangkan akan belanja lagi. “Wah di mana-mana ada bu. Di semua tempat yang tadi kita datengin ada kok, insya Alloh!”
“Di toko obat ada mbak?”
Ah, ibu!
-this togetherness, something I don’t get when I’m not home
11 Agustus 2011
Ibu mengrenyitkan dahi, “Pasmina? Engga ah! Ibu ngga suka!”
“Ngga suka gimana? Bagus, bu, nutup aurot kok,” kali ini giliran aku yang mengrenyitkan dahi, heran.
Aku bergegas ke kamar dan mengambil selembar pasmina yang kubeli di Blok M beberapa waktu lalu. Kupakai pasmina abu-abu polkadot itu untuk kutunjukkan pada ibu.
“Nih, bu, cantik kan?” aku bergaya di depan cermin. Ibu mendekat dan melihat bayanganku dari cermin, “Bagus sih,”
Finally!
“Ah, tapi pasmina ngga cocok buat pipi chubby kayak ibu,” lanjut ibu.
Yah!
Aku penasaran, masa iya sih, ngga cocok buat ibu. Aku pun memaksanya untuk mencoba. “Ayolah bu, coba dulu.”
Ibu menyerah. Akhirnya beliau mau mencoba memakainya. Aku membantu mengenakan ke kepalanya. “Bagus, kan, bu!” kataku sambil menatanya. Ibu mengiyakan.
“Eh, iya, ya, engga jelek. Cari pasmina di mana ya?”
Aku semangat, membayangkan akan belanja lagi. “Wah di mana-mana ada bu. Di semua tempat yang tadi kita datengin ada kok, insya Alloh!”
“Di toko obat ada mbak?”
Ah, ibu!
-this togetherness, something I don’t get when I’m not home
11 Agustus 2011
Categories
iseng-iseng berhadiah
Monday, August 15, 2011
Visi Cinta
Beberapa waktu yang lalu seorang teman pernah bertanya padaku, apakah saat ini aku sedang mencintai seseorang. Jujur aku sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Terlalu frontal, blak-blakan. Apalagi di tengah tekanan menghadapi ujian semester.
Aku terhenyak sesaat. Tak tahu harus berkata apa. Bukan karena aku sedang mencintai seseorang atau tidak, bahkan aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ada seseorang yang kucintai saat ini.
Tentang cinta, pengetahuanku sangatlah sempit. Yang aku tahu, suatu saat ada masanya di mana akan kudapatkan cinta yang halal itu. Entah pada siapa, dari siapa, dan untuk siapa kuberikan cinta itu. Aku tak meminta pangeran setampan Nabi Yusuf yang turun dari seekor kuda putih. Toh, aku ini tak lebih dari sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Aku terhenyak sesaat. Tak tahu harus berkata apa. Bukan karena aku sedang mencintai seseorang atau tidak, bahkan aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ada seseorang yang kucintai saat ini.
Tentang cinta, pengetahuanku sangatlah sempit. Yang aku tahu, suatu saat ada masanya di mana akan kudapatkan cinta yang halal itu. Entah pada siapa, dari siapa, dan untuk siapa kuberikan cinta itu. Aku tak meminta pangeran setampan Nabi Yusuf yang turun dari seekor kuda putih. Toh, aku ini tak lebih dari sebutir pasir yang wujud di mana-mana.
Categories
hikmah,
iseng-iseng berhadiah
Kebiasaan Baik? Bisa Kok! #1
Mengajarkan anak akan kebiasaan –kebiasaan yang baik-baik memang susah-susah gampang. Ada kalanya kita harus pandai-pandai bermulut manis agar mereka tertarik dengan apa yang kita ajarkan. Ada kalanya pula kita harus tegas dan memaksakan kehendak. Nah kali ini aku punya beberapa cerita tentang mengajarkan anak—lebih tepatnya sih adik—untuk melakukan sesuatu yang baik-baik.
Dua hari pulang, aku emperhatikan kalau setiap berbuka puasa, Prama selalu punya banyak makanan. Balam dendam mungkin ya, karena puasa seharian. Aku berkomentar saja, “Jajanmu kok banyak sih, dek, uangnya banyak ya!”
Dua hari pulang, aku emperhatikan kalau setiap berbuka puasa, Prama selalu punya banyak makanan. Balam dendam mungkin ya, karena puasa seharian. Aku berkomentar saja, “Jajanmu kok banyak sih, dek, uangnya banyak ya!”
Categories
anak,
hikmah,
iseng-iseng berhadiah
Thursday, December 30, 2010
VALENTINES OF MINE
Inilah sedikit hasil kerjaanku di awal-awal keluar dari rumah. Silakan menikmati... :D
Categories
iseng-iseng berhadiah
Monday, November 8, 2010
Momen
Jatuh sakit itu biasa, maksudku sakit bisa menimpa siapapun, kapanpun, di manapun, dalam keadaan bagaimanapun. Kali ini aku yang jahat dan psikopat pun bisa jatuh sakit. Tanpa kasih ampun, si sakit bahkan berkunjung di saat yang sangat amat tepat: ACTION—hajatnya anak akun STAN tingkat 1.
Categories
hikmah,
iseng-iseng berhadiah,
Menulis
Subscribe to:
Posts (Atom)
