Wednesday, August 17, 2011

Catatan Galau

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, August 17, 2011 0 Comments
“Mw bikin galau yg lagi asik liburan ah… Kira2 kapan ya pengumuman ip? gak ada kepastian nilai ni… ada yang lagi cenat-cenut gk ni…hehe” 
Begitu postingan seorang teman dalam grup kelas di Facebook. Wah, minta dibata dia.

Aku jadi memikirkan bagaimana kira-kira IP-ku nanti. Apakah nanti hasilnya akan baik atau baik, entahlah, aku sama sekali tidak bisa memprediksi kira-kira berapa angka yang keluar. Ini jelas berkaitan dengan prestasi belajarku. Aku menyadari, semester ini aku tidak berusaha dengan maksimal. Aku mengakui bahwa aku kurang belajar, kurang berusaha memahami pelajaran, terkantuk saat kuliah, dan menyerah begitu saja ketika ada hal yang tidak kupahami.

Parahnya lagi, aku dikuasai rasa malas. Bukan hanya urusan kuliah, bahkan aku pun mulai malas mendatangi mesjid, malas mendatangi pengajian ba’da subuh, atau sekadar solat berjamaah. Malas, tak bersemangat, tak ada keinginan sama sekali untuk berkembang.

Satu semester, selama itulah aku terjebak dalam penyakit ini. Sungguh dalam masa itu aku menyadari ada yang salah dalam diriku. Masalahnya aku pun tak memiliki semangat untuk merubah hidupku yang kacau itu.
Kalau ditanya apa aku galau, ya iyalah, jelas aku galau. Ini kan erat kaitannya dengan hidupku. Aku baru menyesal tatkala kusadari, betapa satu semester yang kusia-siakan itu sungguh akan sangat berpengaruh. Tentu saja karena pada kasus ini IP-ku sangat berpengaruh pada kelanjutan studiku. Itu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya benar-benar menakut-nakutiku, kuakui. Yah, rasanya seperti kehilangan masa muda saja dihantui hal seperti itu.

IP? Entahlah. Tak henti-henti aku meminta belas kasih Allah agar IP-ku tidak terjun bebas. Walaupun aku telah mengutarakan hal ini pada Ibu dan Bapak, setidaknya mereka tidak akan terlalu kecewa apabila IPku hanya turun sedikit, atau minimal seperti semester lalu lah. Masalahnya aku teramat yakin IPku akan turun! Pikiran inilah yang tidak bisa dibiarkan, aku butuh bantuan untuk melawannya!

Walau begitu aku tetap optimis!! Proceed! Aku berusaha meyakinkan diriku dan membangun pikiran positif, aku akan menyelesaikan studiku tepat waktu, tiga tahun. Akan kujalani semester tiga, empat, lima dan enam, dilanjutkan yudisium dan wisuda kelak, seperti rencana hidupku. Ayolah, aku pasti bisa melewatinya, insya Allah! Bisa! Bisa! Bisa!

SK, 16-08-11
13.58

Pasmina

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, August 17, 2011 0 Comments
Aku dan ibu baru saja pulang dari berburu jilbab untuk hari raya nanti ketika tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Kenapa ibu ngga beli pasmina aja”
Ibu mengrenyitkan dahi, “Pasmina? Engga ah! Ibu ngga suka!”
“Ngga suka gimana? Bagus, bu, nutup aurot kok,” kali ini giliran aku yang mengrenyitkan dahi, heran.
Aku bergegas ke kamar dan mengambil selembar pasmina yang kubeli di Blok M beberapa waktu lalu. Kupakai pasmina abu-abu polkadot itu untuk kutunjukkan pada ibu.
“Nih, bu, cantik kan?” aku bergaya di depan cermin. Ibu mendekat dan melihat bayanganku dari cermin, “Bagus sih,”
Finally!
“Ah, tapi pasmina ngga cocok buat pipi chubby kayak ibu,” lanjut ibu.
Yah!
Aku penasaran, masa iya sih, ngga cocok buat ibu. Aku pun memaksanya untuk mencoba. “Ayolah bu, coba dulu.”
Ibu menyerah. Akhirnya beliau mau mencoba memakainya. Aku membantu mengenakan ke kepalanya. “Bagus, kan, bu!” kataku sambil menatanya. Ibu mengiyakan.
“Eh, iya, ya, engga jelek. Cari pasmina di mana ya?”
Aku semangat, membayangkan akan belanja lagi. “Wah di mana-mana ada bu. Di semua tempat yang tadi kita datengin ada kok, insya Alloh!”
“Di toko obat ada mbak?”
Ah, ibu!

-this togetherness, something I don’t get when I’m not home
11 Agustus 2011

Monday, August 15, 2011

Visi Cinta

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, August 15, 2011 2 Comments
Beberapa waktu yang lalu seorang teman pernah bertanya padaku, apakah saat ini aku sedang mencintai seseorang. Jujur aku sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Terlalu frontal, blak-blakan. Apalagi di tengah tekanan menghadapi ujian semester.

Aku terhenyak sesaat. Tak tahu harus berkata apa. Bukan karena aku sedang mencintai seseorang atau tidak, bahkan aku sendiri ragu dengan perasaanku sendiri. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah ada seseorang yang kucintai saat ini.


Tentang cinta, pengetahuanku sangatlah sempit. Yang aku tahu, suatu saat ada masanya di mana akan kudapatkan cinta yang halal itu. Entah pada siapa, dari siapa, dan untuk siapa kuberikan cinta itu. Aku tak meminta pangeran setampan Nabi Yusuf yang turun dari seekor kuda putih. Toh, aku ini tak lebih dari sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Kebiasaan Baik? Bisa Kok! #1

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, August 15, 2011 0 Comments
Mengajarkan anak akan kebiasaan –kebiasaan yang baik-baik memang susah-susah gampang. Ada kalanya kita harus pandai-pandai bermulut manis agar mereka tertarik dengan apa yang kita ajarkan. Ada kalanya pula kita harus tegas dan memaksakan kehendak. Nah kali ini aku punya beberapa cerita tentang mengajarkan anak—lebih tepatnya sih adik—untuk melakukan sesuatu yang baik-baik.

Dua hari pulang, aku emperhatikan kalau setiap berbuka puasa, Prama selalu punya banyak makanan. Balam dendam mungkin ya, karena puasa seharian. Aku berkomentar saja, “Jajanmu kok banyak sih, dek, uangnya banyak ya!”

Thursday, December 30, 2010

VALENTINES OF MINE

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, December 30, 2010 0 Comments
Inilah sedikit hasil kerjaanku di awal-awal keluar dari rumah. Silakan menikmati... :D

Monday, November 8, 2010

Momen

Posted by » Nabila Sumargono at Monday, November 08, 2010 0 Comments
Jatuh sakit itu biasa, maksudku sakit bisa menimpa siapapun, kapanpun, di manapun, dalam keadaan bagaimanapun. Kali ini aku yang jahat dan psikopat pun bisa jatuh sakit. Tanpa kasih ampun, si sakit bahkan berkunjung di saat yang sangat amat tepat: ACTION—hajatnya anak akun STAN tingkat 1.

Friday, October 22, 2010

Catatan Malam Pertama

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 22, 2010 4 Comments
Ha, malam pertama. Betul, hari ini 19 September 2010 adalah malam pertamaku keluar dari rumah. Dan di malam pertamaku ini, aku diqodar sendirian di kamar. Ketika membaca quran terhalang keadaan, hanya notebook pemberian Bapak yang kujadikan teman.

Biasanya kalau merasa sepi atau sendiri, aku merasa jadi orang yang paling malang dan menyedihkan di dunia ini. Apa ini terjadi pada orang lain, entahlah, tapi beginilah aku adanya saat ini. Lihat, bahasa yang kutulis seserius ini, juga terdengar melow (apaan sih melow, kayaknya engga ada di kamus deh). Padahal biasanya tulisanku asal sahut saja.

Diingat-ingat, biasanya jam segini Rafi mencariku, “Mbak, mau bobo...”. Lalu aku mulai cerewet menyuruh Prama dan Rafi untuk pipis sebelum tidur. Sekarang apa kabar, ya, di sana? Siapa yang menemani mereka tidur?

Atau mungkin aku lagi nonton. Atau mungkin kalau engga ada acara menarik di TV, ya internetan. Ah, selamat tinggal era internet gratis sepuasnya dibayarin bapak. Selamat datang era nyari hotspot atau warnet, hiks..hiks.... sudah engga bisa posting, browsing, uploading, downloading.. sesuka hati, nih. Ah, dunia yang indah.

Di rumah pasti akan banyak hal yang kurindukan. Keributan di pagi hari, antri mandi, kaus kaki hilang sebelah, makanan tumpah di seragam.... Atau ketika jam sepuluh ketika aku buru-buru pergi menjemput Prama. Lalu melihat betapa ganteng dan cool-nya adikku dari gerbang sekolah, berjalan dan melambaikan tangannya padaku. Duh, duh, adikku masih kecil tapi cool-nya engga nguatin deh. Hihi, malah ganjen.

Aku juga senang melihat Ifa, Afi, Ofi yang misuh-misuh engga jelas gara-gara aku kerjain atau kucerewetin. Haha, barangkali ngedumelnya, “Heran, punya Mbak kok ajaib gini. Cerewet stadium akhir,”
Juga ketika aku menggoda ibu, manggil-manggil engga jelas, “Hey, Mommy!”
“What?”
“Engga..”

Atau ketika aku menertawakan ibu yang digoda bapak. Ah, bapak selalu saja punya bahan godaan buat ibu.
Kalau kuingat terus yang ada di rumah, ya memang engga akan ada habisnya. Rumahku adalah sumber kebahagiaan, sumber kenangan, sumber inspirasi. Dan kalau kuingat ternyata aku sudah tak lagi menjadi bagian dari kisah-kisah di rumah, ah, membangkitkan kesedihanku deh.

Yah, barangkali dari sinilah aku diuji. Apakah aku mampu melangkah seorang diri. Apakah mampu aku menyesuaikan diri. Akan terasa sulit, sepertinya (sok tau) tapi aku harus bersikap realistis. Aku punya rumah baru, keluarga baru dan peraturan baru. Dan aku harus cocok dengan semua yang baru itu. 

Kubaca lagi tulisanku, kedengarannya lebay, ya? Apalagi kalau yang baca kakak-kakak tingkat yang sudah banyak pengalaman. Barangkali komentar mereka, “Ah, nanti juga biasa!”. Ya memang betul sih, nanti juga biasa. Aku tau. Tapi menurutku engga salah kan kalau aku menciptakan momen penting dari momen yang engga penting ini?

Triplek Atas, 19 September 2010
Antara sepi dan penyesalan...
 

IncrediBila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review