Hati memang engga pernah bohong. Walau kita ingin selalu keliatan cheer up, bahagia, semangat, dan selalu ingin menyebar energi positif buat orang-orang di sekitar, kadangkala kita engga bisa mengelak dari yang namanya bad mood.
Friday, September 9, 2011
Wednesday, September 7, 2011
Terapi Air Putih
Tepat Waktu Minum Air Putih akan Memaksimalkan Efektivitas pada Tubuh Manusia.
* 2 Gelas Air Setelah Bangun Tidur akan Membantu Mengaktifkan Organ2 Internal.
* 1 Gelas Air - 30 Menit Sebelum Makan untuk Membantu Fungsi Pencernaan & Ginjal.
* 1 Gelas Air - Sebelum Mandi Membantu Menurunkan Tekanan Darah.
* 1 Gelas Air - Sebelum Tidur untuk Menghindari Stroke atau Serangan Jantung.
* 2 Gelas Air Setelah Bangun Tidur akan Membantu Mengaktifkan Organ2 Internal.
* 1 Gelas Air - 30 Menit Sebelum Makan untuk Membantu Fungsi Pencernaan & Ginjal.
* 1 Gelas Air - Sebelum Mandi Membantu Menurunkan Tekanan Darah.
* 1 Gelas Air - Sebelum Tidur untuk Menghindari Stroke atau Serangan Jantung.
You kicked me, Unfriend :(
Menunggu waktu tidur, aku iseng membuka profil facebook teman-teman kelasku. Ketika kubuka profil seorang teman gadis, sebut saja Mawar (halah), ternyata aku sudah di-unfriend olehnya.
Saturday, August 20, 2011
Kebiasaan Baik #2
Sedang asyik-asyiknya aku membaca Alquran di sore hari, adik-adikku ribut. Ofi, Prama, Rafi. Mereka memang senang bercanda, adaaaa saja yang bahan bercandaan mereka setiap hari.
“Berisik!” aku terganggu. Aku menghentikan membaca quranku. Geruudukk..geruduk! adik-adik malah kejar-kejaran di dalam rumah. Ngapain mereka itu! Mereka baru berhentu kejar-kejaran setelah melompat dan membanting tubuh mereka ke tempat tidur. Bummm!! Membal.
Karena semua ngumpul di kamar, tak kusia-siakan kesempatan untuk ‘ceramah’. “Dek, mbok ya kalian tu baca quran. Bulan puasa lho! Pahalanya dilipat gandakan jadi sepuluh!”
Mereka hanya melihatku dengan pandangan biasa. Saat itu aku merasa karierku sebagai ustadzah dadakan akan hancur.
Aku kembali bicara, “Eh, tau nggak, kalau ada anak sholeh yang rajin baca Quran, orang tuanya nanti diberi mahkota sama Alloh, trus mahkotanya bisa bersinar lebih terang daripada matahari. Enak banget kan! Coba, kalau ibu bapak dapet mahkota, kamu dapet apa? Pasti dapet yang lebih buuuagusss lagi!”
Aku lebay.
“Iya, mbak?” sepertinya Prama mulai tertarik.
“O, iya dong. Makanya, ayo baca quran!” ajakku, “Ofi , ayo baca Quran juga!”
Tapi merek tidak langsung melaksanakannya. Mereka manyun, dengan manyunnya masing-masing.
Lantas Prama berargumen, “Nanti aja, mba! Kan baca Quran abis Magrib!”
“Iya, mba, nanti aja abis magrib!” Ofi mendukung argumen adiknya. Mereka bermalas-malasan.
“Sekarang!” kataku. “Daripada kalian gojek terus, ga ada manfaatnya!”
Mereka mulai mengiba, “Wis go, mba, ya, nanti aja, go, mba!”
Sepertinya aku harus mengeluarkan jurus "hansip nelen pentungan"-ku.
“Mba bilang SEKARANG! Ayo, ambil Quran! Baca! Mba Ufa liburan Cuma sebentar kok kalian ga mau nurut sih! Ayo, sekarang nurut kata mba!” aku ngoto. Mereka pokoknya harus baca Quran.
Ya, begitulah. Akhirnya mereka membaca Quran, walaupun kelihatannya terpaksa. Aku lega. Kuteruskan membaca Quran hingga magrib tiba.
Selesai sholat magrib, aku membuka ponselku. Mengecek SMS-SMS yang masuk. Tiba-tiba suara adik-adikku bergema memenuhi kamar sebelah, “Audzubillahi minassyaitooonirrojiim…”
Aku melongok ke kamar mereka dan mendapati mereka membaca Alquran. Afi, Ofi, dan Prama, mereka sibuk dengan Alquran mereka masing-masing. Rafi kulihat sedang mengambil Iqro jilid 2-nya dari rak, lalu menghampiriku, “Mba, baca iqro!”
Aku speechless. Mereka memang menepati jadwal mereka membaca Alquran. Rasanya aku melihat orang-orang yang sabiqqumbil khoirot, orang-orang yang berlomba-lomba mencari kebaikan. Bangga karena orang-orang itu adalah adik-adikku.
Ah, sekali lagi, mengajarkan anak kebiasaan-kebiasaan baik itu gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Kadang kita harus sabar dan bersikap manis di depan mereka. Tapi ada kalanya kita harus keras dan galak terhadap mereka. Pintar-pintar saja, sih, dalam memperlakukan mereka.
Sedikit pengalamanku, mudah-mudahan bermanfaat.
SK, 20-08-11
“Berisik!” aku terganggu. Aku menghentikan membaca quranku. Geruudukk..geruduk! adik-adik malah kejar-kejaran di dalam rumah. Ngapain mereka itu! Mereka baru berhentu kejar-kejaran setelah melompat dan membanting tubuh mereka ke tempat tidur. Bummm!! Membal.
Karena semua ngumpul di kamar, tak kusia-siakan kesempatan untuk ‘ceramah’. “Dek, mbok ya kalian tu baca quran. Bulan puasa lho! Pahalanya dilipat gandakan jadi sepuluh!”
Mereka hanya melihatku dengan pandangan biasa. Saat itu aku merasa karierku sebagai ustadzah dadakan akan hancur.
Aku kembali bicara, “Eh, tau nggak, kalau ada anak sholeh yang rajin baca Quran, orang tuanya nanti diberi mahkota sama Alloh, trus mahkotanya bisa bersinar lebih terang daripada matahari. Enak banget kan! Coba, kalau ibu bapak dapet mahkota, kamu dapet apa? Pasti dapet yang lebih buuuagusss lagi!”
Aku lebay.
“Iya, mbak?” sepertinya Prama mulai tertarik.
“O, iya dong. Makanya, ayo baca quran!” ajakku, “Ofi , ayo baca Quran juga!”
Tapi merek tidak langsung melaksanakannya. Mereka manyun, dengan manyunnya masing-masing.
Lantas Prama berargumen, “Nanti aja, mba! Kan baca Quran abis Magrib!”
“Iya, mba, nanti aja abis magrib!” Ofi mendukung argumen adiknya. Mereka bermalas-malasan.
“Sekarang!” kataku. “Daripada kalian gojek terus, ga ada manfaatnya!”
Mereka mulai mengiba, “Wis go, mba, ya, nanti aja, go, mba!”
Sepertinya aku harus mengeluarkan jurus "hansip nelen pentungan"-ku.
“Mba bilang SEKARANG! Ayo, ambil Quran! Baca! Mba Ufa liburan Cuma sebentar kok kalian ga mau nurut sih! Ayo, sekarang nurut kata mba!” aku ngoto. Mereka pokoknya harus baca Quran.
Ya, begitulah. Akhirnya mereka membaca Quran, walaupun kelihatannya terpaksa. Aku lega. Kuteruskan membaca Quran hingga magrib tiba.
Selesai sholat magrib, aku membuka ponselku. Mengecek SMS-SMS yang masuk. Tiba-tiba suara adik-adikku bergema memenuhi kamar sebelah, “Audzubillahi minassyaitooonirrojiim…”
Aku melongok ke kamar mereka dan mendapati mereka membaca Alquran. Afi, Ofi, dan Prama, mereka sibuk dengan Alquran mereka masing-masing. Rafi kulihat sedang mengambil Iqro jilid 2-nya dari rak, lalu menghampiriku, “Mba, baca iqro!”
Aku speechless. Mereka memang menepati jadwal mereka membaca Alquran. Rasanya aku melihat orang-orang yang sabiqqumbil khoirot, orang-orang yang berlomba-lomba mencari kebaikan. Bangga karena orang-orang itu adalah adik-adikku.
Ah, sekali lagi, mengajarkan anak kebiasaan-kebiasaan baik itu gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Kadang kita harus sabar dan bersikap manis di depan mereka. Tapi ada kalanya kita harus keras dan galak terhadap mereka. Pintar-pintar saja, sih, dalam memperlakukan mereka.
Sedikit pengalamanku, mudah-mudahan bermanfaat.
SK, 20-08-11
Categories
anak
Wednesday, August 17, 2011
Playlist
Siang tadi, masih dalam suasana hatiku yang buruk. Aku membantu ibu memetik kangkung di dapur. Ibu kemudian memutar musik dari ponselnya. Aku mendengarkan lagu tersebut, tapi tidak mengenal lagu apa dan siapa penyanyinya.
“Bu, ini lagu apa sih?” tanyaku.
Masih sambil memetik kangkung, kata ibu, “Harusnya Memilih Aku,”
“Yang nyanyi siapa?”
“Tere,”
Aku hanya ber-ooh saja. Begitu selesai, lagu lain diputar. Kembali aku tidak mengenal lagu tersebut dan kutanyakan lagi pada ibu. Ada lagunya Afgan, Lagunya Ungu featuring Andien.
“Ini kan soundtrack film, fa,” kata ibu lagi.
“Film apa?”
“Filmnya Ungu,”
Aku merasa jenuh mendengar lagu-lagu yang ibu putar. ingin sekali rasanya kuputar lagu-lagu Genesis dan Phil Collins. Lantas tanpa kupikir, aku berujar, “Ufa ngga suka lagu-lagu ini,”
Ibu pun berhenti. Terhenyak. Aku lantas merasa menyesal telah berkata seperti itu pada ibu. Tapi sejurus kemudian ibu tetap melanjutkan aktivitasnya. “Ah, ibu suka kok. Lagian lagu-lagu yang masuk playlist ibu kan udah melewati …emm,”
“Seleksi?” sambungku.
Ibu mengangguk.
Aku ikut mengangguk.
“Ufa ngga update sih bu, sama lagu-lagu Indonesia.” kataku, sedikit pembelaan—lebih tepatnya.
“Kamu di sana sibuk ya, Mbak?”
“Engga juga sih, masih tetep bisa nonton tivi kok. Ngga suka aja, bu. Phil Collins aja uda banyak banget. Uda cukuplah buat lahan, heheheh,” ujarku.
Ibu sepertinya mengerti kalau aku tidak menyukai lagu-lagu yang diputar. Beliau mematikannya.
Aku berhenti membersihkan ikan ditanganku, lalu berpikir. Sepertinya aku terlalu kasar tadi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kan kalau aku ikut mendengarkan musik favorit ibu, walau tidak suka. Toh, ibu juga ikut mendengarkan lagu-lagu Phil Collins kala aku memutarnya. Walaupun tidak suka, setidaknya aku harus berusaha menerimanya.
Ya, lain kali aku akan menghormati kesukaan orang lain. Maaf ya, bu!
SK, 17 Agustus 2011
“On bended knee”
“Bu, ini lagu apa sih?” tanyaku.
Masih sambil memetik kangkung, kata ibu, “Harusnya Memilih Aku,”
“Yang nyanyi siapa?”
“Tere,”
Aku hanya ber-ooh saja. Begitu selesai, lagu lain diputar. Kembali aku tidak mengenal lagu tersebut dan kutanyakan lagi pada ibu. Ada lagunya Afgan, Lagunya Ungu featuring Andien.
“Ini kan soundtrack film, fa,” kata ibu lagi.
“Film apa?”
“Filmnya Ungu,”
Aku merasa jenuh mendengar lagu-lagu yang ibu putar. ingin sekali rasanya kuputar lagu-lagu Genesis dan Phil Collins. Lantas tanpa kupikir, aku berujar, “Ufa ngga suka lagu-lagu ini,”
Ibu pun berhenti. Terhenyak. Aku lantas merasa menyesal telah berkata seperti itu pada ibu. Tapi sejurus kemudian ibu tetap melanjutkan aktivitasnya. “Ah, ibu suka kok. Lagian lagu-lagu yang masuk playlist ibu kan udah melewati …emm,”
“Seleksi?” sambungku.
Ibu mengangguk.
Aku ikut mengangguk.
“Ufa ngga update sih bu, sama lagu-lagu Indonesia.” kataku, sedikit pembelaan—lebih tepatnya.
“Kamu di sana sibuk ya, Mbak?”
“Engga juga sih, masih tetep bisa nonton tivi kok. Ngga suka aja, bu. Phil Collins aja uda banyak banget. Uda cukuplah buat lahan, heheheh,” ujarku.
Ibu sepertinya mengerti kalau aku tidak menyukai lagu-lagu yang diputar. Beliau mematikannya.
Aku berhenti membersihkan ikan ditanganku, lalu berpikir. Sepertinya aku terlalu kasar tadi. Sebenarnya tidak apa-apa juga kan kalau aku ikut mendengarkan musik favorit ibu, walau tidak suka. Toh, ibu juga ikut mendengarkan lagu-lagu Phil Collins kala aku memutarnya. Walaupun tidak suka, setidaknya aku harus berusaha menerimanya.
Ya, lain kali aku akan menghormati kesukaan orang lain. Maaf ya, bu!
SK, 17 Agustus 2011
“On bended knee”
Categories
Galau,
iseng-iseng berhadiah,
Phil Collins
Catatan Galau #2
Hari ini mendung. Sebenarnya bukan cuaca yang mendung melainkan suasana hatiku hari ini. Aku sendiri heran, kenapa bisa begini, padahal kamu tau kan, aku jarang banget mengalami bad mood seperti ini.
Ah, entahlah! Barangkali akumulasi dari kejenuhanku selama sepuluh hari liburan. Sepuluh hari man! Aku nganggur, ngga ada kerjaan. Masih ditambah galau memikirkan IP. Ah galau galau galau!
Aku sudah tidak semangat sejak bangun tidur. Beres-beres rumah, bapak malah mengomentari pekerjaanku. Aku diam saja. Tapi bungkamku malah membuatku dibanding-bandingkan dengan Ifa!
Ah, Ifa! Wajarlah! Adikku itu memang gadis dengan segudang prestasi, sementara aku? Ordinary girl with ordinary ability and ordinary hopes. Aaarghh..
Semakin aku putus asa ketika aku menonton upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia dari tivi. Aku menuliskan apa yang kupikirkan tentang tujuhbelasan itu. Saat kubaca tulisanku, aku tidak menemukan passion yang biasa keluar ketika aku menulis. Ketika kumeresapi makna perjuangan kemerdekaan, aku menyadari betapa lemah daya juangku. Aku tak banyak berjuang. Aku tak banyak berusaha. Aku tenggelam dalam rasa malas, pesimis, negative feeling, entahlah. Aku ini ikan besar di kolam kecil, padahal lautan begitu luas membentang di sana.
Aku mengeluh, mengeluh, aku mengeluh. Daripada memubadzirkan waktu, kubaca ayat-ayat Quran untuk menghilangkan kesusahanku. Satu juz satu dudukan, aku baru sadar, bacaanku tadi sepertinya bukan untuk mencari wajah Tuhan, tapi lari dari masalah! Yah, mudah-mudahan saja Allah mau menerima bacaan Quranku tadi.
Sungguh aku ingin keluar dari kegundahan yang menggelayuti pikiranku. Aku ingin jadi manusia baru. Manusia yang berguna, manusia yang baik. Manusia yang..ideal? Yah pokoknya aku ingin menghilangkan semua hal negatif dari diriku. Aku ingin keluar dari pikiran buruk yang menjebakku. Aku ingin bebaaaaasss!
SK, 17-08-11
Ikan besar di kolam kecil
12:18
Ah, entahlah! Barangkali akumulasi dari kejenuhanku selama sepuluh hari liburan. Sepuluh hari man! Aku nganggur, ngga ada kerjaan. Masih ditambah galau memikirkan IP. Ah galau galau galau!
Aku sudah tidak semangat sejak bangun tidur. Beres-beres rumah, bapak malah mengomentari pekerjaanku. Aku diam saja. Tapi bungkamku malah membuatku dibanding-bandingkan dengan Ifa!
Ah, Ifa! Wajarlah! Adikku itu memang gadis dengan segudang prestasi, sementara aku? Ordinary girl with ordinary ability and ordinary hopes. Aaarghh..
Semakin aku putus asa ketika aku menonton upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia dari tivi. Aku menuliskan apa yang kupikirkan tentang tujuhbelasan itu. Saat kubaca tulisanku, aku tidak menemukan passion yang biasa keluar ketika aku menulis. Ketika kumeresapi makna perjuangan kemerdekaan, aku menyadari betapa lemah daya juangku. Aku tak banyak berjuang. Aku tak banyak berusaha. Aku tenggelam dalam rasa malas, pesimis, negative feeling, entahlah. Aku ini ikan besar di kolam kecil, padahal lautan begitu luas membentang di sana.
Aku mengeluh, mengeluh, aku mengeluh. Daripada memubadzirkan waktu, kubaca ayat-ayat Quran untuk menghilangkan kesusahanku. Satu juz satu dudukan, aku baru sadar, bacaanku tadi sepertinya bukan untuk mencari wajah Tuhan, tapi lari dari masalah! Yah, mudah-mudahan saja Allah mau menerima bacaan Quranku tadi.
Sungguh aku ingin keluar dari kegundahan yang menggelayuti pikiranku. Aku ingin jadi manusia baru. Manusia yang berguna, manusia yang baik. Manusia yang..ideal? Yah pokoknya aku ingin menghilangkan semua hal negatif dari diriku. Aku ingin keluar dari pikiran buruk yang menjebakku. Aku ingin bebaaaaasss!
SK, 17-08-11
Ikan besar di kolam kecil
12:18
Categories
Galau
17 Agustus?
Hari kemerdekaan. Merdeka dari apa? Merdeka untuk apa? Tanggal 17 Agustus 2011, seperti biasa yang kulakukan hanyalah menonton upacara peringatan proklamasi kemerdekaan dari televisi. Seperti biasa. Yah setidaknya ada saat di mana pikiranku pergi ke masa aku mengenyam bangku SD. Di masa itulah aku dijejali berbagai cerita-cerita perjuangan bangaimana Indonesia bisa mendapatkan kemerdekaannya. Tepatnya sih bukan cerita, karena itu materi pelajaran IPS yang harus kuhafal agar aku bisa lulus ujian.
Menginjak bangku SMP dan SMA, aku semakin tahu dan mulai dapat membayangkan bagaimana perjuangan kaum muda untuk mendapatkan kemerdekaan. Aku pun paham bagaimana kegigihan para mahasiswa memperjuangkan pemikirannya.
Nah, kini statusku pun sudah menjadi mahasiswa. Sayangnya aku tak punya banyak daya seperti mahasiswa-mahasiswa di zaman dulu. Aku hanya mahasiswa biasa, amat biasa. Datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, pulang ketika waktunya, belajar seperlunya. Hanya itu.
Satu-satunya yang kusadari tentang perjuanganku, adalah bagaimana aku dapat bertahan mengikuti perkuliahan tepat waktu—tiga tahun—lulus, lalu bekerja menghidupi keluarga. Sudah, itu saja. Ketika telah kuselesaikan tugasku, mengabdi pada ibu-bapak, keluarga, menghidupi mereka, lalu mati dengan tenang, barangkali itulah yang kusebut kemerdekaan.
17 Agustus. Tidak ada yang berbeda kecuali peringatan semata.
SK, 17 Agustus 2011
10:17
pasang surut kehidupan
Menginjak bangku SMP dan SMA, aku semakin tahu dan mulai dapat membayangkan bagaimana perjuangan kaum muda untuk mendapatkan kemerdekaan. Aku pun paham bagaimana kegigihan para mahasiswa memperjuangkan pemikirannya.
Nah, kini statusku pun sudah menjadi mahasiswa. Sayangnya aku tak punya banyak daya seperti mahasiswa-mahasiswa di zaman dulu. Aku hanya mahasiswa biasa, amat biasa. Datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, pulang ketika waktunya, belajar seperlunya. Hanya itu.
Satu-satunya yang kusadari tentang perjuanganku, adalah bagaimana aku dapat bertahan mengikuti perkuliahan tepat waktu—tiga tahun—lulus, lalu bekerja menghidupi keluarga. Sudah, itu saja. Ketika telah kuselesaikan tugasku, mengabdi pada ibu-bapak, keluarga, menghidupi mereka, lalu mati dengan tenang, barangkali itulah yang kusebut kemerdekaan.
17 Agustus. Tidak ada yang berbeda kecuali peringatan semata.
SK, 17 Agustus 2011
10:17
pasang surut kehidupan
Subscribe to:
Posts (Atom)
