Friday, October 22, 2010

Catatan Malam Pertama

Posted by » Nabila Sumargono at Friday, October 22, 2010 4 Comments
Ha, malam pertama. Betul, hari ini 19 September 2010 adalah malam pertamaku keluar dari rumah. Dan di malam pertamaku ini, aku diqodar sendirian di kamar. Ketika membaca quran terhalang keadaan, hanya notebook pemberian Bapak yang kujadikan teman.

Biasanya kalau merasa sepi atau sendiri, aku merasa jadi orang yang paling malang dan menyedihkan di dunia ini. Apa ini terjadi pada orang lain, entahlah, tapi beginilah aku adanya saat ini. Lihat, bahasa yang kutulis seserius ini, juga terdengar melow (apaan sih melow, kayaknya engga ada di kamus deh). Padahal biasanya tulisanku asal sahut saja.

Diingat-ingat, biasanya jam segini Rafi mencariku, “Mbak, mau bobo...”. Lalu aku mulai cerewet menyuruh Prama dan Rafi untuk pipis sebelum tidur. Sekarang apa kabar, ya, di sana? Siapa yang menemani mereka tidur?

Atau mungkin aku lagi nonton. Atau mungkin kalau engga ada acara menarik di TV, ya internetan. Ah, selamat tinggal era internet gratis sepuasnya dibayarin bapak. Selamat datang era nyari hotspot atau warnet, hiks..hiks.... sudah engga bisa posting, browsing, uploading, downloading.. sesuka hati, nih. Ah, dunia yang indah.

Di rumah pasti akan banyak hal yang kurindukan. Keributan di pagi hari, antri mandi, kaus kaki hilang sebelah, makanan tumpah di seragam.... Atau ketika jam sepuluh ketika aku buru-buru pergi menjemput Prama. Lalu melihat betapa ganteng dan cool-nya adikku dari gerbang sekolah, berjalan dan melambaikan tangannya padaku. Duh, duh, adikku masih kecil tapi cool-nya engga nguatin deh. Hihi, malah ganjen.

Aku juga senang melihat Ifa, Afi, Ofi yang misuh-misuh engga jelas gara-gara aku kerjain atau kucerewetin. Haha, barangkali ngedumelnya, “Heran, punya Mbak kok ajaib gini. Cerewet stadium akhir,”
Juga ketika aku menggoda ibu, manggil-manggil engga jelas, “Hey, Mommy!”
“What?”
“Engga..”

Atau ketika aku menertawakan ibu yang digoda bapak. Ah, bapak selalu saja punya bahan godaan buat ibu.
Kalau kuingat terus yang ada di rumah, ya memang engga akan ada habisnya. Rumahku adalah sumber kebahagiaan, sumber kenangan, sumber inspirasi. Dan kalau kuingat ternyata aku sudah tak lagi menjadi bagian dari kisah-kisah di rumah, ah, membangkitkan kesedihanku deh.

Yah, barangkali dari sinilah aku diuji. Apakah aku mampu melangkah seorang diri. Apakah mampu aku menyesuaikan diri. Akan terasa sulit, sepertinya (sok tau) tapi aku harus bersikap realistis. Aku punya rumah baru, keluarga baru dan peraturan baru. Dan aku harus cocok dengan semua yang baru itu. 

Kubaca lagi tulisanku, kedengarannya lebay, ya? Apalagi kalau yang baca kakak-kakak tingkat yang sudah banyak pengalaman. Barangkali komentar mereka, “Ah, nanti juga biasa!”. Ya memang betul sih, nanti juga biasa. Aku tau. Tapi menurutku engga salah kan kalau aku menciptakan momen penting dari momen yang engga penting ini?

Triplek Atas, 19 September 2010
Antara sepi dan penyesalan...

Wednesday, September 15, 2010

I'm Your Angel

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, September 15, 2010 0 Comments
"I'm Your Angel"

No Mountains too high, for you to climb
All you have to do is have some climbing faith, oh yeah
No rivers too wide, for you to make it across
All you have to do is believe it when you pray

My Valentine

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, September 15, 2010 0 Comments
Martina McBride - My Valentine
 
If there were no words
No way to speak
I would still hear you

If there were no tears
No way to feel inside
I'd still feel for you

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
You're all i need
My love, my valentine

Anything for You

Posted by » Nabila Sumargono at Wednesday, September 15, 2010 1 Comments
Sedang iseng saja. Aku sedang tak punya kerjaan di rumah. Duduk didepan meja kerja Bapak, aku mengambil sebuah penggaris yabg tergeletak di meja. Yah, penggaris buatan Cina yang terbuat dari plastik lentur, entah apa nama bahannya.
Lalu kubaca tulisan itu.
Anything for You.”

Tuesday, September 7, 2010

The Way You Look Tonight

Posted by » Nabila Sumargono at Tuesday, September 07, 2010 0 Comments
-Frank Sinatra

Sung by Phil Collins

Some day, when I'm awfully low,
When the world is cold,
I will feel a glow just thinking of you...
And the way you look tonight.

Yes you're lovely, with your smile so warm
And your cheeks so soft,
There is nothing for me but to love you,
And the way you look tonight.

With each word your tenderness grows,
Tearing my fear apart...
And that laugh that wrinkles your nose,
It touches my foolish heart.

Lovely ... Never, ever change.
Keep that breathless charm.
Won't you please arrange it ?
'Cause I love you ... Just the way you look tonight.

Mm, Mm, Mm, Mm,
Just the way you look to-night.
http://www.youtube.com/watch?v=xOZdbuNm5NA

Tuesday, February 2, 2010

Someday We'll Know

Posted by » Nabila Sumargono at Tuesday, February 02, 2010 0 Comments
Ninety miles outside Chicago
Can't stop driving
I don't know why
So many questions
I Need an answer
Two years later
he's still on my mind


Whatever happened to Amelia Earhart?
Who holds the stars up in the sky?
Is true love just once in a lifetime?
Did the captain of the Titanic cry?

(Ohh)

Someday we'll know
If love can move a mountain...
Someday we'll know
Why the sky is blue...
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you...

Does anybody know the way to Atlantis?
Or what the wind says when she cries?
I'm speeding by the place that I met you
For the 97th time...Tonight

Someday we'll know
If love can move a mountain...
Someday we'll know
Why the sky is blue...
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you...
(yeah yeah yeah yeah)
Someday we'll know
Why Samson loved Delilah...
One day I'll go
Dancing on the moon...
Someday you'll know
That I was the one for you...
I bought a ticket to the end of the rainbow,
I watched the stars crash in the sea,
If I could ask God just one question...
Why aren't you here with me?...Tonight

Someday we'll know
If love can move a mountain...
Someday we'll know
Why the sky is blue...
Someday we'll know
Why I wasn't meant for you...
(yeah yeah yeah yeah)

Someday we'll know
Why Samson loved Delilah...
One day I'll go
Dancing on the moon...
Someday you'll know
That I was the one for you...


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

Thursday, December 10, 2009

Taring Mahasiswa, Kekuatan Indonesia!

Posted by » Nabila Sumargono at Thursday, December 10, 2009 2 Comments
9 Desember menjadi tanggal penting buat sebagian orang karena pada tanggal itu, mereka mengadakan hajat besar-besaran: Aksi Damai Memperingati Hari Antikorupsi Sedunia. Di Jakarta, mereka benar-benar menepati janji tidak rusuh, kegiatan berjalan terkendali. Acara yang digelar di depan Monas dan menghadap ke Istana Merdeka berjalan tertib, diisi oleh nyanyian-nyanyian lagu nasional dan yel-yel seruan untuk pemerintah, terutama dalam mengungkap kasus dana talangan Bank Century.Di Semarang, lain lagi ceritanya. Ratusan mahasiswa sebuah universitas memaksa rektornya berorasi bersama mereka. Di Makassar bahkan lebih parah. Aksi yang disebut “aksi damai” tersebut berakhir ricuh. Mereka melempari sebuah restoran siap saji Amerika dan merusak empat buah mobil yang diparkir di sana.

Melihat aksi tersebut rata-rata dimotori oleh para mahasiswa dan kaum intelektual lainnya, saya jadi teringat bagaimana perjuangan para mahasiwa zaman dahulu hingga sekarang.


Dimulai dari zaman kolonial Belanda. Sebagai contoh kita punya Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam. Beliau mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.

Atau barangkali yang lebih akrab di telinga kita yaitu ketika peristiwa Gestapu berhasil mengoyak-oyak Bangsa Indonesia yang sebenarnya punya kekuatan kesatuan yang besar. Peristiwa ini mau tidak mau melibatkan gerakan mahasiswa—kali ini disebut angkatan ’66, angkatan mahasiswa paling disegani dan paling membanggakan hingga zaman sekarang. Saat itu Menteri Perguruan Tinggi yang dijabat dr.Syarif Thayeb mewadahi mahasiswa anti PKI dengan mendirikan kesatuan aksi yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia ( KAMI ). Tergabung dalam KAMI, organisasi kewahasiswaan seperti HMI, PMKRI, PMII,dll. Tujuan utamanya menggalang aksi mahasiswa untuk melancarkan aksi demonstrasi menuntut pembubaran PKI dan onderbouw – onderbouwnya. Dan di kalangan mahasiswa, onderbouw PKI adalah Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia ( CGMI).

Dendam kalangan mahasiswa antikomunis terhadap CGMI ini sudah berlangsung lama sebelum peristiwa G30S. Sebab, saat PKI sedang naik pamor karena kedekatan elitnya dengan Presiden Soekarno, CGMI pun bersikap angkuh terhadap organisasi mahasiswa yang lain. PPMI (Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa Indonesia) sebagai gabungan organisasi – organisasi mahasiswa dikuasai oleh CGMI. Tindakan mereka yang paling tidak disukai adalah menuntut pembubaran HMI, padahal sama – sama tergabung dalam PPMI. Perlu diketahui, pada masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik.

Tuduhan yang dialamatkan pada HMI ketika itu adalah HMI memiliki kaitan dengan Masyumi, partai yang sudah dinyatakan terlarang. Untung saja, keputusan yang tinggal teken oleh Bung Karno itu urung terjadi melalui “gertakan” menteri agama KH. Saifuddin Zuhri. Dendam kesumat itu memuncak kemudian pasca G30S. Giliran CGMI yang dibabat. Dan sejarah mencatat kemudian, dengan bantuan AD aktivis CGMI ditangkapi dengan mata – mata mahasiswa anti PKI sendiri.

Titik puncak keruntuhan wibawa BK salah satunya disebabkan oleh aksi – aksi Tritura. KAMI menuntut dalam Tritura pertama, pembubaran PKI. Kedua, pembersihan kebinet dwikora dari unsur PKI serta perbaikan ekonomi berupa penurunan harga – harga kebutuhan pokok. Inflasi hingga 600% lebih membuat kondisi masyarakat tidak menentu. Dan ini dimanfaatkan betul oleh KAMI, tentu dengan dukungan AD.
Puncak aksi yang kelak tidak akan dilupakan terjadi pada 24 februari 1966. Demo mahasiswa di depan istana Negara berbuntut bentrok dengan pasukan cakrabirawa. Pasukan cakrabirawa yang mungkin telah kehilangan akal sehat menembak membabi buta ke arah kerumunan hingga seorang mahasiswa kedokteran bernama Arif Rahman Hakim tewas tertembak.

Perjuangan mahasiwa kembali diuji dengan diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa. Hal ini dilakukan pemerintah untuk menjauhkan mahasiswa dari kegiatan politik yang dinilai mengancam posisi rezim yang berkuasa saat itu.

Jauh setelah itu perjuangan mahasiwa yang lebih dekat dengan kita adalah Gerakan 1998 yang menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998. Para mahasiswa tanpa putus asa berusaha menduduki Senayan kemudian berujung pada ketidakberdayaan Presiden Soeharto untuk melepaskan jabatannya. Gerakan ini kembali menyisakan duka dengan kematian empat mahasiswa Trisakti, Elang Mulia lesmana, Heri Hertanto, Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan pada 12 Mei 1998 akibat tembakan aparat yang membabi buta.

Sejalan dengan reformasi dan perkembangan globalisasi, gerakan mahasiswa berubah mengikuti zaman. Sebagian orang menilai, gerakan mahasiswa yang saat ini diwakilkan oleh demonstrasi, turun ke jalan, pawai dan sebagainya tidak berangkat dari penderitaan rakyat yang diterjemahkan ke dalam isu-isu perbaikan taraf hidup rakyat.

Melemahnya budaya membaca, kemajuan teknologi yang menciptakan suatu keadaan serba instan setuju atau tidak telah membuat taring yang selama ini ditunjukkan mahasiswa menjadi lemah alias melempem.
Sebagai contoh, tahun 2006, tambang minyak baru nan melimpah ruah ditemukan di Cepu, dimanfaatkan dengan perbandingan 45:55 antara Pertamina dengan Exxon Mobil milik Amerika. Mahasiswa bungkam.

Menengok sejarah yang terjadi, kita dapat melihat perbedaan-perbedaan perjuangan mahasiswa di tiap generasi. Perjuangan angkatan ’66 begitu kuat pengaruhnya hingga menumbangkan Orde lama dengan bantuan Angkatan Darat karena kepentingannya sama. Sementara perjuangan angkatan ’98 merupakan refleksi dari kejenuhan mereka akibat tekanan dari pemerintah yang memang paranoid dengan vokalnya mahasiswa.

Dua generasi mahasiswa yang mampu menumbangkan rezim yang berkuasa pada masanya mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan bahwa keberadaan mahasiswa-lah yang akan menunjukkan akan dibawa kemana, Indonesia, di masa mendatang.

Menilai aksi damai 9/12 kemarin, pantaslah bila kita sedikit khawatir akan eksistensi mahasiswa sebagai kaum intelektual muda Indonesia. Keikutsertaan mahasiswa dalam aksi tersebut tanpa banyak terdengar suara-suara kritis atau vokal menimbulkan pertanyaan, apakah mereka benar-benar peduli dengan apa yang menimpa Indonesia—dalam hal ini kasus Bank Century. Bahkan terbesit pertanyaan, apakah mereka benar-benar paham atau mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tahu bagaimana menyelesaikan persoalan bangsa dan mengatasinya. Hanya mereka yang mampu menjawabnya.

Wahai Kakak, adikmu menanti jawabnya..

Referensi:
wikipedia
kompasiana
wikipedia NKK/BKK
fajaronline
metrotvnews
http://ryannote-theotherme.blogspot.com/2009/01/kaleidoskop-mahasiswa-dulu-dan-sekarang.html
http://lolaamelia.multiply.com/journal/item/28

Sumber gambar:
http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2008/01/demo-mpr.jpg
http://www.tribun-timur.com/photo/2009/06/a2fffd23aa45d2970015e456ca75615a.jpg

catatan manshurina: terima kasih untuk referensi-referensi, sangat membantu sekali!
 

IncrediBila Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review