“Aku mungkin cantik, mungkin pintar. Tapi aku merasa tak berarti, bahkan untuk diriku sendiri.”
Ia menceritakan segalanya. Ia merasa terasing dengan kehidupannya. Ia merasa dinomorduakan. Teman-teman berkumpul dengan kumpulan mereka sendiri. Sayangnya, ia tak memiliki kumpulan teman seperti itu.
“Aku ingin berteman dengan semua orang, orang-orang di sekelilingku. Ya, aku bisa berteman dengan mereka. Tapi... aku tak bisa menjadi bagian dari hidup mereka
Saat ini model pergaulan yang seperti itulah yang dianut orang muda. Ia mengikuti kata hatinya, bergaul dengan semua orang. Tapi ia gagal menerobos tabir-tabir itu. Ia tak mampu mengikuti kebiasaan mereka..
Apalagi—dengan berjiwa lapang—ia menceritakan keadaan finansialnya yang mungkin tak sebaik diriku. Aku tak menyangka, perempuan anggun, berhasil dan berkarakter itu dengan wajah sendu tapi tenang menceritakan hal yang—setahuku—semua orang malu menceritakannya.
“Ayahku tak berkerja lagi sejak saat itu. Dan... itu artinya, study-ku akan hancur kalau tak kuperjuangkan sendiri...”
“...”
“... aku bekerja menyedot toilet orang.”
Aku tak menatapnya sedetikpun.
Ia kemudian tertawa, “Kau tahu, aku belajar dan makan dari kotoran orang. Tapi itu lebih baik....”
Aku terdiam.
“Yeah, show must go on! Aku harus terus mengikuti arah hidupku walau menyakitkan. Lagipula, nobody is perfect!
Aku terus mengunyah, barangkali ia juga mengunyah. Aku merenung, barangkali ia juga merenung. Aku menyesal, tetapi ia tidak.
Aku tidak berani menatap wajahnya.
Showing posts with label Cerbung euy. Show all posts
Showing posts with label Cerbung euy. Show all posts
Thursday, May 7, 2009
Tuesday, May 5, 2009
iT'S noT fAIR PART 2
Meggy mau tidak mau membiarkan Gia menjadi bagian dari hidupnya. apa betah, dia?
Aku bisa melihatnya dengan jelas ia sedang berpelukan dengan Matt. Mereka terlihat sangat mesra. Seorang putri cantik jelita dan seorang pangeran yang terlihat begitu gagah. Aku sudah bisa merelakan peran tersebut untuknya. Tapi Matt? Tidak! Aku menyukainya. Aku merasa sangat cemburu melihat mereka dengan mesra. Aku hanya mendapat peran dayang. Figuran. Tidak main juga tidak apa-apa. Hanya jadi pajangan! Oh, no! Apa dayang berkencan dengan pangeran? Orang gila sekalipun akan mengatakan tidak.
Aku sangat khawatir something bad akan terjadi. Tapi semoga saja tidak! Daripada gerah melihat kesuksesan Gia sebagai putri raja sekaligus sutradara kabaret ini, lebih baik aku pergi ke kantin saja.
Setelah mendapatkan pesanan yang kuinginkan aku menikmatinya. Aku takut melihat sekeliling. Di kantin ini cuma aku yang makan sendiri. Nobody accompanies me. Oh, Tuhan jangan sampai sesuatu yang buruk itu terjadi.
“Boleh menemani?” Ya Tuhan, bukankah aku telah meminta-Mu untuk mencegah sesuatu buruk terjadi? Gia datang dan duduk di sampingku. Aku tersenyum saja ketika ia mengatakan Matt mencariku. Tiba-tiba aku ingin makan banyak.
Begitu pesanannya tiba, ia menikmatinya dengan lahap. Aku tahu ia pasti lelah sekali. Aku mulai memikirkan Matt yang mungkin juga kelaparan. Sambil menyantap makanannya, ia mengajakku mengobrol.
“Kau tahu, aku begitu iri padamu,” katanya. Aku tersentak. Untuk apa ia berbicara seperti itu. “Kau! Ya ... aku iri padamu!” ulangnya kembali.
“Bukankah aku yang seharusnya mengatakan hal itu padamu?” aku menjawabnya dengan pertanyaan.
Gia menggeleng, “Tidak juga. Kau punya segalanya. Kau pintar, modern, kau manis. Dan kau punya teman banyak.”
Aku terkejut mendegar hal ini. Aku semakin terkejut saat ia membicarakan segalanya padaku.
Aku sangat khawatir something bad akan terjadi. Tapi semoga saja tidak! Daripada gerah melihat kesuksesan Gia sebagai putri raja sekaligus sutradara kabaret ini, lebih baik aku pergi ke kantin saja.
Setelah mendapatkan pesanan yang kuinginkan aku menikmatinya. Aku takut melihat sekeliling. Di kantin ini cuma aku yang makan sendiri. Nobody accompanies me. Oh, Tuhan jangan sampai sesuatu yang buruk itu terjadi.
“Boleh menemani?” Ya Tuhan, bukankah aku telah meminta-Mu untuk mencegah sesuatu buruk terjadi? Gia datang dan duduk di sampingku. Aku tersenyum saja ketika ia mengatakan Matt mencariku. Tiba-tiba aku ingin makan banyak.
Begitu pesanannya tiba, ia menikmatinya dengan lahap. Aku tahu ia pasti lelah sekali. Aku mulai memikirkan Matt yang mungkin juga kelaparan. Sambil menyantap makanannya, ia mengajakku mengobrol.
“Kau tahu, aku begitu iri padamu,” katanya. Aku tersentak. Untuk apa ia berbicara seperti itu. “Kau! Ya ... aku iri padamu!” ulangnya kembali.
“Bukankah aku yang seharusnya mengatakan hal itu padamu?” aku menjawabnya dengan pertanyaan.
Gia menggeleng, “Tidak juga. Kau punya segalanya. Kau pintar, modern, kau manis. Dan kau punya teman banyak.”
Aku terkejut mendegar hal ini. Aku semakin terkejut saat ia membicarakan segalanya padaku.
Hei..hei... apa lagi sekarang? ikutin terus kisahnya!
Categories
Cerbung euy
Monday, May 4, 2009
It's Not Fair
Jangan percaya kalau aku membenci Gia. Tapi itulah kenyataannya. Ia adalah teman dekatku. Sahabat? Tidak tahu! Dia temanku, dan kurasa dia orang yang tepat untuk jadi teman dekatku.
Ia berkulit putih, aku berkulit putih. Ia terlihat menawan, aku terlihat sangat elegan. Ia bisa menari, dan aku pun bisa. Ia bisa menyanyi, aku pun bisa. Ia pintar, aku pun pintar. Tetapi ia terpilih menjadi pemeran utama opera Prince Frog dan aku tidak. Ia terlihat sangat menyukaiku, dan aku membencinya. Ini adil?
Ia berkulit putih, aku berkulit putih. Ia terlihat menawan, aku terlihat sangat elegan. Ia bisa menari, dan aku pun bisa. Ia bisa menyanyi, aku pun bisa. Ia pintar, aku pun pintar. Tetapi ia terpilih menjadi pemeran utama opera Prince Frog dan aku tidak. Ia terlihat sangat menyukaiku, dan aku membencinya. Ini adil?
Seperti Senin-Senin sebelumnya, kelasku mengadakan undian tempat duduk. Semua mulai bertanya-tanya siapa sitmate mereka seminggu kedepan. Begitu pun aku. Tapi tak kusangka, sitmate-ku kali ini Gia!
“Hai, Meggy! Ini saat yang kutunggu!” ujarnya. Yeah, kita sebangku. Aku tersenyum padanya. Ia terlihat ingin mengobrol namun Mrs Tome, guru sains kami sudah datang.
Senin terdengar membosankan, setelah seharian memanjakan penyakit malas kita di hari Minggu. Aku sudah mulai bosan mendengar penjelasan Mrs Tome tentang pewarisan sifat yang menjenuhkan itu.
Aku meletakkan kepalaku di atas meja hingga Gia menegurku, “Tidakkah kau mendengar penjelasannya? Kau akan tertinggal karena materinya sulit sekali,” Ah, peduli apa? Aku sudah merasa pintar untuk belajar sendiri.
Aku membencinya, tapi aku tak ingin komunikasi kita putus. Lagipula, cuma aku yang tahu aku membencinya. Ia tak boleh tahu.
“Tidak, aku begitu lapar. Mendengarkannya membuatku sangat mengantuk!”
Gia memintaku segera makan. Aku tak menghiraukan ocehannya itu. Mengikuti perkataannya akan membuatku merasa tunduk kepadanya.
###
Bagaimana hubungan Meggy dan Gia selanjutnya? Tunggu lanjutannya yaa!
Categories
Cerbung euy
Subscribe to:
Posts (Atom)